Quillatisserie
  • Home
  • Blog
  • Tag
    • Diary
    • Kreatif
      • Fotografi
      • Gambar
      • Cerpen
  • Tentang
  • Kontak

Diary

Cerpen

Blog


Saya ini berdarah campuran. Setengah darah Gorontalo dari Ayah dan Jawa dari Ibu. Makanya di rumah itu lucu, karena kami memiliki banyak logat. 50 persennya adalah logat Indonesia pada umumnya, semetara sisanya adalah logat Jawa, Gorontalo, dan Makassar. Selain itu, saya dan adik saya punya karakter setengah-setengah. Kami dididik layaknya orang Jawa yang harus patuh pada orangtua. Tapi, kami memiliki sifat keras kepala khas orang Sulawesi.

Selain blasteran, saya juga hidup  pindah-pindah. Pekerjaan Ayah sayalah yang membuat saya seperti ini. Dari kuliah memang Ayah sudah belajar jadi anak rantau. Dia hijrah ke Jakarta meninggalkan keluarganya di Gorontalo demi mengejar cita-cita. Pindah-pindah telah melatih Ayah termasuk kami anggota keluarga lain untuk belajar banyak logat.

Kehidupan nomaden kami dimulai dua tahun setelah saat saya lahir. Dari Bekasi kami pindah ke Banjarmasin. Saat itu logat Banjar belum memengaruhi saya karena saya baru belajar untuk bertutur kata. Dari Kota Seribu Sungai, Kota Hujan adalah destinasi kami untuk tinggal berikutnya. Saya menetap disana selama 9 tahun lamanya. Namun menetap disana, dan  belajar Bahasa Sunda selama 6 tahun di Sekolah Dasar tak menjadikan saya mahir Bahasa Sunda. Hanya setengah-setengah dapat mengartikan saat mendengar, tapi tak bisa menuturkannya.

Lidah saya kembali harus beradaptasi lagi saat kami pindah ke tanah Ayah, Gorontalo. 2 tahun lamanya saya disana. Telinga saya sudah bisa mendengarkan logat itu, namun tidak untuk pelafalannya. Saya harus terbata-bata mengikuti cara mereka bertutur untuk pertama kali. Huruf ‘e’ di sana di ucapkan serupa huruf ‘o’. Jika kita bilang ‘membeli’, orang Gorontalo bilang ‘momboli’.

Lagi, pindah ke Kota Daeng Makassar menjadi cobaan buat lidah saya. Kaku-kaku lidah kembali saya rasakan ketika belajar mengucapkan logat yang ‘lucu’ di telinga saya itu. Dalam bahasa mereka, kata yang akhirannya ‘n’ dibaca ‘ng’. Sementara kata yang akhirannya ‘ng’ dibaca ‘n’. Empat tahun saya bertahan dengan logat yang kadang menggelitik buat saya itu. Namun, meski aneh, justru logat inilah yang paling melekat di ingatan saya.

Sekarang, di Jakarta saya merasa lega, karena tak perlu mengalami kaku-kaku lidah lagi. Namun,  tetap saja saya gelagapan saat mereka tanya saya orang mana dan suku apa. Menguasai banyak logat membuat saya kebingungan mau bilang apa.

“Jangan tanya saya suku apa!”.

Saya rasa itulah jawaban yang tepat untuk pertanyaan mereka, mengingat saya memiliki krisis identitas mengenai kesukuan.

Jakarta, 13 Oktober 2016
Bagi sebagian orang yang senang menulis, mungkin nama pena merupakan hal yang tidak perlu dipikirkan matang-matang. Karena, pasalnya, nama pena dapat 'menjual' tulisan yang dibuat. Jika nama pena menarik, pembaca tak segan membaca karangan tulisan tersebut. Namun, ada juga beberapa penulis yang lebih memlih menggunakan nama aslinya.  Yaaa.. Beda penulis, beda juga pola pikirnya.
Menurut Asma Nadia (dan dari beberapa sumber lainnya), ada banyak alasan mengapa seorang penulis memilih untuk menggunakannama pena:
- Karena penulis tidak ingin dikenal
Hal ini berhubungan dengan kondisi psikologis sang penulis. Jika penulis adalah orang yang tertutup, kemungkinan besar ia akan menggunakan nama pena. Namun, ada juga sih penulis yang sifatnya terbuka tapi menutup dirinya di dunia kepenulisan... XD
- Nama asli terlalu panjang/ sulit / mengandung banyak kata asing
Nah, ini dia yang aku rasalan, maka jangan heran kalau aku menggunakan nama pena (yang kadang-kadang bisa saja berubah).
- Tidak percaya diri dengan nama yang biasa saja
Walau bagaimanapun, gengsi juga memengaruhi nama pena yang dibuat oleh seorang penulis, loh.
- Iseng-iseng
Menurutku, keisengan seseorang juga mempengaruhi keunikan nama prna yang dibuat. Semakin iseng orangya, maka semakin kreatiflah nama penanya... Hahahaha...

Diantara semua alasan tersebut, aku lebih berpihak pada alasan pertama. Dan alasan lainnya karena aku takut diejek oleh teman-temanku. Daaannn... Setelah berpikir panjang, kutemukan nama pena baru yang (semoga saja) dapanmenjual karya-karyaku kelak.

Tisha Xandria

Tisha, berasal dari kata bahasa Arab at-tisha yang artinya 'yang selalu aktif'. Sedangkan, Xandria sendiri adalah nama band metal dari negara Jerman yang juga beraliran electronic rock. Nama Xandria sebenarnya nama khusus buat cowok, namun aku tetap menyukainya. Selain itu nama Xandria juga kutambahkan pada nama tokih cerpenku, Indri Xandria Elisha... :D

Bagi teman-teman yang binguh soal nama pena, aku punya tips nih!:
- Ambil beberapa huruf dari nama panjangmu
- Gunakan kata dari bahasa asing
- Cari referensi nama bayi
- Ingat-ingat orang terdekatmu yang punya nama unik
- Ingat nama idola atau tokoh anime favoritmu
- Tentukan huruf kapital yang akan dipakai atau tidak
- Boleh juga pakai nama olokan dari sahabatmu
- Have fun dalam mencari nama penamu!.

Tisha Xandria
(Karena merubah nama pena, aku merubah aku medsosku juga.. :D)

Instagram: tshxandria
Twitter: @tshxandria




-
Tanggal 16 Januari lalu merupakan tanggal yang paling mendebarkan bagi kami, anak kelas 19-21A. Kami harus menebus nilai Ujian Akhir Semester mata kuliah Intro to Performing Arts Communication kami dengan menampilkan teater gubahan kami sendiri yang diadaptasi dari buatan orang lain.
Pada awal pemberian materi tentang teater, kami, diperbolehkan secara hormat oleh dosen kami, Ms. Renata Tirta Kurniawan untuk memilih posisi yang kami inginkan. Selain itu, asisten dosen kami, Miss Greta juga melakukan hal yang sama. Karena aku kurang suka tampil di depan umum, aku memilih posisi yang paling cocok buatku, Kru Panggung (Stage Crew). Tugasnya yaa.. kayak bersih-bersih stage gitu lah. Bukan hanya itu, kamilah yang menaruh segala properti yang dibutuhkan di stage.
Akhrnya, setelah menyelesaikan beberapa proses yang panjang, kami memilih naskah yang (sebenarnya) agak sulit, yaitu My One and Only. Isi cerita teater kami tentang seorang anak lelaki usia 17 tahun yang sangat mengidolakan bahkan terobsesi dengan Marilyn Monroe. Dia berpikir bahwa Mrilyn Monroe mirip dengan ibunya. Suatu saat, dia memiliki kesempatan untuk dekat dengan Marilyn. Sampai akhirnya Marylin meninggal, dan Scout, si anak lelaki itu, jadi gila.
Saat pertengahan projek ini, terjadi kekecewaan diantara kami semua, melihat kinerja sutradara kami yang pada saat itu terbilang lambat. Akhirnya secara paksa, dosen kami mengganti sutradara kami dengan sutradara yang baru. Setelah itu kami memiliki banyak tantangan yang belum dapat diselesaikan karena sutradara terdahulu yang kinerjanya lambat. Tapi jujur, itu bukan salah dia semua, sih. Hehehe. Tugas yang HARUS kami lakukan adalah mendesain poster (bagi divisi Promotion),  desain tiket (divisi Promotion), buat floor plan (divisi Stage), buat desain backdrop (divisi Stage), dan bikin list property (divisi Stage jugaaa..). Namun, lagi-lagi, kinerja kami tetap lambat, sampai akhirnya kami di ancam oleh dosen kami. Disitulah kinerja kami mulai terlihat, sedikit demi sedikit..

Ini adalah desain poster teater kami yang telah mengalami revisi berkali-kali! :D
Kami latihan selama menyelesaikan tugas sisa kami, dan terus latihan. Tiap pulang kampus, kami kadang pulang sampai jam 8 malam demi teater itu. Hari Rabu dan Kamis, jika ada pengajian, aku dan salah satu temanku bahkan harus (merelakan diri) buat pergi ke Kampus C untuk menghadiri pengajian rutin organisasi FOMS (Federation of Moslem Students) kami. Dalam tiap latihan, kami biasa melakukan 3 sesi, pertama, sesi heezing, huruf vokal, dan yang satunya lagi kami sebut dengan 'be-de-be-de'. Di sesi pertama itu, kami melatih kekuatan kami dalam menahan nafas, bernafas dengan perut, dan mengeluarkan suara perut. Sesi kedua, kami melakukan semacam exercise yaitu dengan menggoyang-goyangkan tangan dan kaki secara bergantian sambal menghitung dari hitungan 1x8 sampai 1x1. Kami semua menyebut sesi ini dengan perontokan lemak :D. Dan sesi terakhir adalah run true, dimana yang cast menghafal dialog dan yang stage crew memindahkan barang-barang simulasi yang berupa tas. Latihan itu berjalan kira-kira 2 bulan lamanya.

Dan, tak terasa, hari H-pun tiba. Kami bergegas menuju Kampus B jam 6 pagi, dan langsung meluncur ke Drama Room. Disana, kami makan bubur ayam terlebih dahulu, dan mempersiapkan semua yang akan dibawa di stage. Lalu kami mengadakan latihan terakhir sebelum ke Auditorium Kampus B. Sesampainya di Auditorium, tepat jam setengah 1 siang, kami langsung mengambil tempat masing-masing. Aku mengambil tempat wing kanan, karena aku selalu muncul dari kanan.  Latihan pertama, kami banyak melakukan kesalahan. Latihan berikutnya, juga sama. Sampai kami saling beradu mulut satu sama lain karena sudah mulai pesimis. Dosen kami mengancam kami tidak akan tampil teater. Beliau bilang, " Kalian adalah teater yang pertama tampil, kalian adalah tolak ukur!!. Gimana kalo kalian umumkan kalo teater kalian batal tampil, dan balikin uang audience rame-rame aja?!". Kami benar-benar putus asa, jam sudah menunjukkan pukul setengah 6, dan teater kami gak akan bisa dibatalkan karena akan mulai jam 6 :30 sore.
Tiba jam 6 lewat 15 menit, kami berdoa di stage, semoga dilancarkan dalam teater kami. "My One and Only: One and Only!!!", kami berseru keras saat teater akan dimulai.
Daaann.. Pukul jam 6:35, teater kami dimulai dengan sambutan dari dosen mata kuliah Intro to Performing Art Communication kami, Ms. Renata Tirta Kurniawan.
Detik-detik sambutan dari Miss Renata sebelum kami tampil.

Tirai yang tertutup pun, akhirnya dibuka perlahan, dan satu persatu scene teater kami pun dimulai...

Pembukaan Scene 1, yang menceritakan tentang Scout yang ditilang.


Scene 2: Scout  mengatakan bahwa ibunya yang sedang mabuk itu mirip dengan Marilyn yang ada di majalah.

Scene 4: Saat Scout bertemu Lilly Clark, anak dari kekasih ibunya, Rev. Clark
Scene 5: Saat Rev. Clark, kekasih ibunya datang ke rumah

Menurutku, kedua adegan ini adalah adengan yang paling kocak diantara semua adegan.. XD
Scene 6: Scout bertemu Marilyn.

Scout memegangi Marilyn saat naik sepeda

Scene 9: Marilyn terjatuh dari sepeda,  Scout menolongnya.

Scene 11: Scout membelikan bir untuk ibunya

Scene 14: Scout membantu Mmarilyn yang sedang menghapal dialog.

 Scout digoda oleh Marylin.

Scene 17: Di stasiun.

The end of scenes, scene 18: Scout menjadi gila karena dihantui.

Dalam waktu 1 jam lamanya, teater kami berakhir, dengan (Alhamdulillah) tanpa ada hambatan. Gak sia-sialah latihan kami selama ini. Hehe.

Closing: semua yang berperan dalam teater.
Begitulah teater kami selesai. Aku benar-benar menginginkan lagi kejadian unik seperti itu. Mungkin ini akibat lama gak tampil. Haha. Berikut adalah gambar-gambar tambahan yang lain...


Foto yang diambil tepat setelah teater berakhir.

Yang di post oleh dosen kami saat selesai teater di salah satu medsos.

Meme comic buatan kelas kami yang dibuat saat gempar-gemparnya pemboman di Sarinah.

Yaa.. Jadi begitulah pertunjukkan teater kami berakhir seminggu lalu. Hal yang dulu kami takuti, sekarang telah berubah menjadi cerita. Semoga akan ada lagi cerita tentang kami di lain waktu.. :D. My One and Only, the one and only!!! (:




Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

12
Desain-tanpa-judul
Girl with a lot of dreams and imagination. Writing here to release all of her minds.

Ikuti

Pos Populer

  • Ironi Manusia
  • Mungkin, Selamanya Tangan Ini Tak Akan Berhenti Kerja..
  • Artikel: Jiwa Enterpreneur Terpendam, Api Produktivitas Anak Bangsa Memadam
  • Kali ini SMA...

Kategori

artikel 1 arts 3 blog 38 cerpen 4 cinta 4 cosplay 1 diary 1 diriku 1 dongeng 1 drawing 3 essai 1 experience 1 friends 1 fun 1 hobi 1 idea 1 insprasi 1 journey 1 kreatif 1 love 4 motivasi 4 myself 2 novel 2 pengalaman 1 personal 1 perubahan 1 photography 5 resensi 3 sekolah 1 seru 2 teater 1 teenlit 1 tips 1 unik 1

Berlangganan

Nama

Email *

Pesan *

Risti Fauziyah Habibie. Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Arsip

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  November (1)
      • Jangan pernah tanya apa suku saya!
  • ►  2016 (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2015 (11)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2013 (25)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (5)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2012 (43)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (8)
    • ►  September (5)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (1)

Oddthemes

Populer

  • Alasanku untuk menjadi seorang Penulis
  • Artikel: Jiwa Enterpreneur Terpendam, Api Produktivitas Anak Bangsa Memadam

Copyright © Quillatisserie. Designed by OddThemes