Quillatisserie
  • Home
  • Blog
  • Tag
    • Diary
    • Kreatif
      • Fotografi
      • Gambar
      • Cerpen
  • Tentang
  • Kontak
Hi.. Risty balik lagi nih... :D. Inilah kisah cintaku di dunia nyata. Aku nulis ini di Gorontalo... :D. Silakan dibaca, ya. Hehe..:D.

-True Story-
Inilah kisahku dengannya...
Kami akrab kembali, berkat seorang teman. Kami akrab seperti dulu lagi, waktu kami duduk di kelas VII lalu. Kami selalu berkirim pesan di ponsel. Kami bagaikan anak kembar yang "terpisah". Kesamaan dan kecocokan karakter kami membuat kami akrab. Dia baik, selalu menyemangatiku, selalu mendukungku, selalu menghibur dengan lelucon, kata-kata gombalnya, dan juga hinaannya. Dia tetap "manis", walaupun keras kepala. Sedikit demi sedikit dan seiring waktu berlalu, aku mulai meyukainya.....
"Lagi apa?", itu bunyi pesan yang selalu kudapat darinya saat itu, hampir setiap hari aku mendapatkan pesan itu diponselku. Sontak, pipiku memerah setiap membacanya, aku berteriak dalam hati. Menggaruk-garuk kepala sendiri dan salah tingkah. Dengan senang hati, aku selalu membalas pesan itu sesuai dengan apa yang terjadi. "Aku suka kamu.", aku berkata dalam hati.
"Kamu manis, kamu keren, aku suka kamuuuu...", hatiku gak bisa berhenti mengatakan itu setiap hari. Berbunga-bunga duniaku karenanya. Semua terlihat bersinar, gak kurang apapun. Terasa sempurna karenanya. Rasa sukaku terus memenuhi hati ini, degupan kencang selalu mengiringi disaat aku mendapat pesannya. Aku gak bisa pungkiri, aku suka dia....
Di tanggal 12 Agustus, jam 9:30 malam, ponselku bergetar tanda panggilan masuk. Aku terbangun, dan melihat siapa yang menelpon. Aku benar-benar tersontak begitu melihat namanya terpajang dilayar ponselku. Pelan-pelan aku mengangkat telponnya. "Halo...", di waktu yang bersamaan, kami bicara dengan nada malu-malu. Pipiku memerah, rasanya badan ini mau meleleh... Perlahan-lahan, dia memulai pembicaraan dengan nada yang terdengar agak terbata-bata. Suasana canggung sekaligus malupun tercipta diantara kami. Cerita kami terus berlanjut, dan akhirnya terputus karena kebodohanku yang tidak sengaja menekan tombol untuk mengakhiri panggilan. Itulah saat-saat yang tak terlupakan bagiku.
Tapi sekarang, kami jauh. Seakan ada tembok besar yang memisahkan kami. Kami gak lagi berhubungan. Aku menahan sakit, sementara dia.... perlahan-lahan menghilang dari kehidupanku...
                                            *0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*
Begitu dia hilang, kini aku nyesel + MARAH, benci sama dia. Ngutuk dia habis-habisan, kini menjadi rutinitasku. Gak tahu, begitu sulit otak ini menghapusnya, cinta yang bersemi selama setahun terakhir ini. "Aku benci dia, benci!". Tapi di hari lain, aku bakalan bilang... "Aku rindu dia. Lagi apa ya, dia sekarang?.". Itulah yang selalu ada di otak ini. Aku nyesel, karena suka sama dia, seorang yang selalu dikelilingi cewek-cewek. Yang selalu mendekati perempuan. Dan selalu berubah seiring dengan waktu. Aku nyesel, suka sama dia. Yang memang terbiasa hidup dengan perempuan. Nyesel, karena terlalu berharap dia ngebales perasaan ini. "Tolong, menghilanglah dari otak ini. Aku sudah lelah, lelah berharap dan lelah menunggu...". Begitulah otak ini selalu meminta....
Kata-katanya yang manis ke cewek, membuat ia begitu populer. Seakan seperti idola di kalangan para cewek. Tapi, dia juga begitu menyakitkan hati, bibirnya yang manis, tiba-tiba berubah jadi pedas dan mengeluarkan kata-kata pahit. Itulah dia, si Geminian yang lahir tanggal 13 Juni 1997, cowok yang paling lama menempati hatiku.
"Please, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku....", Kata-kata itu masih tersimpan di otakku, selalu membawa harapan dihati. Sekaligus membuka memori di bulan Juni lalu. Saat dimana dia tiba-tiba menjauh dariku dan beralih ke cewek lain. Mereka saling menyukai, dan akhirnya pacaran. Mungkin semua ini salahku, karena selalu bersikap dingin disaat dia mendekat. Itu semua aku lakukan karena... aku malu, dan aku suka dia...
Bulan Mei lalu, saat yang mendebarkan bagiku. Itulah saatku menyatakan cinta, walaupun secara gak langsung. Kutulis semua isi hati, kuluapkan segala perasaan, kudeskripsikan dirinya sedetail mungkin. Namun dia tetap tak menyadarinya, dan selalu bertanya... "Siapa, siapa?", seolah berharap kalo orang itu dia. Dia gak tahu, gak tahu. Aku gak menjawabnya, kubiarkan dia tahu, kubiarkan dia merasa, tapi, dia malah hilang setelah itu. "Apa masih belum cukup pernyataanku ini?. Apa masih kurang?!. Kamu belum sadar juga?. Aku jelas-jelas menyukaimu...", kugenggam kedua tanganku gemas saat itu, berteriak dalam hati.
"Malam ini, harusnya dipenuhi bintang-bintang, tapi malah hujan bertubi-tubi. Aku tahu, kamu itu diperebutin cowok. Aku marah, benci sama kamu. Aku benci. Aku marah, seakan perasaan cinta ini sudah habis.". Kira-kira, begitulah bunyi pesan yang pernah dia kirim di ponselku sekitar bulan Februari lalu. Bertepatan di saat itu pula, foto-ku (yang menunjukkan kedekatanku dengan cowok lain) terpampang di profil facebook-ku. Dan tergambar jelas, bahwa dia lagi marah saat itu. Pesan itu membawa harapan... Apa orang itu aku?. Apa dia aku?. Aku benar-benar gak tahu siapa cewek yang dia sindir waktu itu. Dan sampai sekarang itu masih terus menghantui otakku. "Apa orang itu aku?. Atau cewek yang dia pacari sekarang?. Atau cewek lain?". Pernyataannya terus berstatus sebagai misteri besar di otakku.
"Apa yang tersembunyi dari senyuman manismu. Apa yang tersembunyi dari manis wajahmu....", status facebook-nya, menambah harapan di hatiku yang jumlahnya sudah jutaan ini. Aku merasakan sesuatu, entah apa. Rasanya deg-degan, namun sepertinya bukan karena jatuh cinta. Tapi pertanda akan sesuatu yang terjadi dengannya. Aku mulai gelisah, terus berpikir. "Siapa dia?", berkali-kali kata-kata itu menghantui.....
Aku menulis, meluapkan perasaanku, yang aku rasakan saat itu. Mengatakan bahwa aku TULUS, gak peduli dia membalas perasaan ini atau gak. Aku berjanji buat terus bertahan dan menunggu. Sekaligus berharap, dia akan dekat lagi denganku..
"Kamu pengen deket sama aku lagi, yang selalu nyakitin hatimu?.". Aku tahu, rasa bersalah menghujam hatinya, menhujani dirinya. Terasa sakit begitu melihatnya. Aku begitu merasakan rasa bersalahnya. Hatiku sakit... "Iya, gak apa....", kedua tangan ini mengetik kata-kata polos ini. Diapun bilang maaf, dengan luapan rasa bersalahnya.
"Aku gak tahu, kapan aku bisa memaafkanmu. Aku ini tipe orang yang susah banget buat memaafkan orang yang udah nyakitin hatiku... Maaf, ngasih jawaban yang gak pasti. Semoga bahagia dengannya....", Air mata hampir mengalir setelah mengatakan itu padanya. Hati ini begitu sakit, entah kenapa... Sakit, sakittt...
"Kenapa kamu gak maafin aku?. Padahal, kan, aku pengen kita berdua kayak dulu. Kita berdua yang saling pengertian...". Kata-kata ini... terkesan begitu egois memang. Harusnya aku bahagia, tapi aku malah menitikkan air mata. Aku gak sanggup menahan air mataku di saat itu, air mata mengalir dengan sendirinya. Berkas-berkas harapan kecil muncul dihati ini. Kedua perasaan sedih dan gembira, bercampur jadi satu.
"Sayang.... Maafin aku. Ngasih perhatian buat orang lain. Ini cuma satu menit kok, cuma satu menit.". Deg!, serasa panah menusuk jantung ini. Air mataku mengalir dalam hati, membanjiri dan membuat kolam penyesalan dalam hati. Disitulah saat aku membencinya. Disitulah aku mulai mengutuknya. Aku benci dia, benar-benar benci dia. Aku benci dia, karena selama ini, dia selalu memberi harapan yang gak jelas. Aku benci, benci, benci dia. Air mataku gak kuat lagi menumpahkan air mata. Udah terlalu banyak air mata yang kukeluarkan untuknya. "Jadi apa arti dari kisah kita?!. Apa maksudmu?!. Kamu begitu tega!!. Aku gak akan memaafkanmu...", amarah dalam hatiku tersampaikan dengan air mata yang perlahan mengalir bersama larutan rasa sakit....
Dan disaat itulah, kami mulai terpisah. Berjalan berbeda arah...

Auuuww.. memang begitu sakit rasa ini. Sampai sekarang, rasa ini belum sepenuhnya terobati. Makanya aku berjanji, akan mencari lagi pujaan hati yang lebih baik darinya. Akan mencari yang lebih darinya. Tapi aku juga janji, kalau nanti dia akan datang, aku akan menerimanya setulus hati...
Kinipun, kadang, aku masih mengutuknya. Tapi aku juga merindukannya. Aku rindu saat-saat kami tertawa sama-sama, aku rindu saat-saat kami bercanda, aku rindu kata-kata manisnya, aku rindu hinaannya, aku rindu nasihat-nasihatnya, aku rindu ke-keras kepala-annya, aku rindu semuanya. Semua tentang dirinya...
Aku gak bisa apa-apa lagi, aku tahu, yang mesti dan harus kulakukan sekarang adalah PASRAH. Menanti, dan menanti jawaban itu datang...

                                                   *******************
                                                Our never forgetfull moments...
> Disaat aku takut, dia menemaniku (walaupun hanya dengan kata-kata di pesan) sampai larut malam...
Aku: "Aku takut...."
Dia:  "Sini, aku temani, gak apa-apa..."
Aku: "Emang kamu gak takut?.."
Dia: "Gak... Aku kan laki-laki, masa takut sama yang 'begituan'?..."
Aku: "Ooohh"
..........
Dia: "Udah. tidur aja sana. Udah malem, loh.."
Aku: "Makasih.."
Dia: 'Sama-sama"

> Disaat kami sakit di hari yang bersamaan, kami saling mendoakan supaya cepat sembuh...
Dia: "Lagi apa?"
Aku: "Lagi tiduran..."
Dia: "Gak sekolah??.."
Aku: "Gak, aku lagi sakit.."
Dia: "Ooohh.. Aku juga lagi sakit..."
Aku: "Eh, sama dong..."
Dia: "Iya. Ya udah semoga cepet sembuh..."
Aku: "Makasih. Kamu juga..."
Dia: "Makasih.."
Aku: "Sama-sama.."

> Dia selalu sabar mendengarkan curhatku... Mata dan hatinya selalu siap membantuku menyelesaikan masalah... Dia selalu ada disana setiap aku sedang kehilangan arah. Akalnya selalu bekerja buat membantuku menyelesaikan masalah. Dia memang baik. Tulus, gak pernah mengharapkan imbalan...

> Dia selalu menyelingi cerita kami dengan berbagai lelucon, hinaan, kata-kata manis, semangat dan keceriaan yang semakin membuatnya kian bersinar dihatiku. Walaupun ada masalah yang menimpanya, dia selalu terlihat ceria. Itulah yang membuatku suka padanya...

> Dia selalu memberi kebahagiaan yang gak terkira walaupun dia agak keras kepala dan terkesan sok tahu. Tapi dia perhatian dan cerdas...

> Kata-katanya selalu membawa semangat dalam diri ini. Rasanya dia itu seperti "ksatria" yang selalu memberi semangat dan selalu melindungiku. Rasanya, dia seperti benar-benar ada disampingku, menemaniku.... Pesonanya begitu nyata...

> Dia seperti kakakku, selalu memberi nasihat buatku. Nasihatnya sangat membantuku buat mewujudkan keinginanku. Itu membuatku merasa seperti adiknya dan dia selalu melindungiku...

"Rasanya, setiap mengenang kenangan yang pernah kulalui dengannya terasa bahagia. Rasanya, selalu ingin tertawa mengenangnya. Tapi gak jarang juga semua kenangan itu justu membuat hati ini perih, mengingat perubahan yang terjadi berkali-kali pada dirinya. Kadang dia begitu lucu dan menyenangkan, tapi juga menyakitkan, sama seperti kisah ini jika dikenang, membawa kebahagiaan, tapi gak jarang juga membuat hati ini perih..." -Me

                                                ---------------------------------------
                                                Sepatah kata dariku untuknya...

Kamu yang disana, yang gak pernah sadar bahwa aku menyukaimu...
Maaf, aku tahu kamu pernah sakit hati karena perlakuanku dulu, yang cuek sama kamu, dan gak peduli sama kamu. Maaf, aku tahu itu begitu menyakitkan...
Maaf juga, aku gak bisa menyatakan perasaanku ini waktu kamu tanya tentang orang yang aku suka. Karena orang itu adalah kamu, makanya aku malu buat menyatakannya...
Maaf aku gak bisa jujur tentang perasaan ini. Maaf, udah membuatmu selalu penasaran dan geregetan karena pengen tahu siapa orang yang aku suka. Maaf karena membuatmu menunggu jawabannya.
Karena orang itu adalah kamu....
Maaf juga, selama ini, aku udah memberi perhatian yang berlebihan terhadapmu, yang mungkin membuatmu agak merasa risih, terganggu dan mungkin bingung. Kamu tahu, semua itu aku lakukan karena aku suka kamu. Maaf karena aku terlalu lama buat jujur tentang ini. Maafkan aku yang terlalu berharap buat memilikimu, tetapi melepasmu begitu saja. Bahkan gak peduli sedikitpun padamu. Mungkin kamu merasa seperti itu dan kesal karena itu...
Aku tahu perasaanmu, tapi sebenarnya gak begitu...
Aku diam bukan karena bosan. Aku diam bukan karena jenuh. Aku diam dan cuek sama kamu karena pengen tahu seberapa perhatianmu dan seserius apa kamu sama aku. Maaf, jika itu terasa menyakitkan buatmu. Maafkan aku, maafkan aku....

Kini, setahun yang indah itu berganti dengan perasaan sesal dihati...
Bayangkan betapa banyak kisah yang pernah kita ukir di buku sejarah kisah kita. Bayangkan betapa banyak hal-hal indah dan manis serta menyakitkan yang pernah kita lalui.
Aku minta satu hal untukmu, aku mau kamu gak melupakannya meskipun aku pernah bilang "lupakanlah...". Jangan lupakan kisah kita ya, tapi lupakanlah kesakitan yang pernah kita alami. Jadikanlah kisah-kisah kita sebagai sebuah pelajaran buat masa depan....
Aku percaya, akan ada akhir bahagia dari kisah ini. Untuk itu, kumohon jangan melupakannya. Kalau kamu mau lupakan aku, segera lupakanlah aku yang selalu membuat hatimu sakit. Tapi jangan lupa, disini ada orang yang mau kamu kembali lagi, dan selalu berharap suatu keajaiban akan datang padanya...
Hehe, maaf ya, aku selalu membuatmu pusing karena tingkahku yang misterius dan selalu berubah pikiran. Yang mungkin kadang gak nyambung. Itulah aku. Aku pengen menunjukkan diriku yang sebenarnya padamu....
Aku harap kamu bahagia, selalu bahagia, dan diberi panjang umur oleh Allah disana...

NB: Aku masih kesal karena sikapmu yang waktu itu. JUJUR, aku juga masih marah gara-gara itu. Tahu sendiri kan, ini juga begitu menyakitkan buatku. Aku akan berusaha memaafkanmu sebisaku. Aku bakalan menunggumu kembali lagi, kok....
                                                  -|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-

Tahun 2012, kami akrab lagi berkat seorang teman. Setiap hari, kita bercanda bersama, berbagi keluh kesah bersama, kecewa bersama. Setahun kita lewati dengan liku-liku perjalan hidup. Setahun yang manis itu kini mulai lenyap, tak lagi bersinar terang seperti dulu. Rasa sesal menyelimuti hati. Kita berdua tak lagi bersama. Rasa pedih yang gak terlupakan. Amarah dalam hati.. Semuanya aku rasakan. Sekarang, tak lagi seperti dulu. Semua berubah seiring waktu. Apa kami masih bisa kembali seperti dulu lagi?. Atau sebaliknya?. Itulah misteri kisah kami yang belum terpecahkan jawabannya. Biarlah waktu dan takdir yang akan menjawabnya nanti...

[This is my real love story. My beautiful and painful love story....]

Gorontalo, 15 Agustus 2013



-Risty-
 Udah lama ya, gak jumpa!!! :D. Hehehe, sorry, gara-gara udah naik kelas, aku jadi agak sombong, ya.. :D.
Iya, sekarang, aku udah kelas XI, lohh.. :). Aku duduk di kelas XI IPA 4 sekarang. Kalau Program IPA, otomatis, pelajaran IPA-nya 2x LEBIH BANYAK daripada pelajaran umum. Mana banyak tugas, itulah yang bikin aku jarang nulis lagi.

Naik kelas, aku berubah, jadi Risty "yang baru"..
Iya, aku ngerasa, semenjak aku naik kelas dan merubah tanda tanganku, aku ngerasa ada yang beda dari diriku. Berangsur-angsur, sifat kekanak-kanakanku agak hilang. Tapi gak semua, sih. Selain itu, aku juga jadi dewasa gitu..

Kegalauan merubah diriku..
Mungkin juga karena disakiti sama orang yang kusukai, aku jadi begini, ya... Hiks, kalau ingat dia, jadi benci lagi, deh.. Di jejaring sosialpun, sekarang, aku gak pernah berhubungan dengannya lagi. Tapi pernah sekali, sih, dengan tiba-tiba, comment-nya masuk di status-ku. Tentu saja itu membawa kenangan buruk lagi. Ooohh.. andai dia tau, aku ini, walaupun dia gak minta, aku akan tetap memaafkannya. Aku akan membalas perbuatannya berusaha buat memaafkannya walaupun hatiku sakit sekalipun. Aku akan buktikan, kalo aku bisa lebih baik tanpanya. Aku gak akan kalah darinya..

Belakangan ini banyak yang mendekatiku!! ☺
Bahagia, deh, rasanya, banyakk yang deketin aku.. :D. Hehehehehe.. seneng bukan main tentunya. Di facebook, temen-temen lamaku mulai mendekatiku lagi (mungkin karena kangen kali, ya.. :D XD). Di rumah, ada cowok-cowok yang tersipu-sipu memanggil namaku (Hihi, tingkah merka lucu, loohh.. :3). Di sekolah, teman baru maupun adik kelas, juga banyak yang mendekatiku. Aku harap, aku bisa terus menjagaa hubungan baik dengan mereka.. :). Aaamiiinn.. 0:)

Aku harap, perubahan ini membawa dampak positif buatku dan juga orang lain...
Yaa, semoga ini merupakan salah satu tanda pemikiranku yang mulai dewasa. Umurku kan, hampir 16 tahun sekarang, jadi sudah mulai masuk di Masa Remaja Pertengahan.. :D. Pokoknya, aku mau berusah abuat jadi Risti Fauziyah Habibie yang baru, yang selalu ceria, sosialis, baik hati, sopan santun, cerdas, gak sombong, selalu membantu dan berguna bagi bangsa dan negara *halah!. Hahaha.. :D. Aaamiinn.. 0:)

O.K, aku kira cukup sekian. C U tommorow!! ^^~
Salam dari planet Ristyverwritlesure, planet yang sekian lama telah menjadi tempat berkumpulnya ide-ide serta coret-coretanku!! :D. Ristyvailowritlefaa!! * sapaan "sihir" buat pembaca.. :D



-Risty-

Hehehe... Udah lama, ya, aku gak nulis blog! :D. Kali ini aku nge-post cerpen baru, nih! :D. Hehehe... Ini baru cepen pembuka, loh :). Cerita selanjutnya bakalan nyusul kok! ^^. O.K, selamat membaca, ya!!! :3

Librarialova (Cinta dan Perpustakaan)
 -Opening Story-
By: Risty Fauziyah Habibie

Gak pernah Gina sebahagia ini.. Pulang sekolah, dia langsung masuk ke kamar dengan senyuman lebar dan pipi yang merah merona. Hal ini tentu saja membuat Vian, kembarannya, keheranan terhadap sikapnya yang aneh.
"Heh, lo kenapa sih, sampe dirumah langsung senyam-senyum gak karuan gitu?!. Kesambet  lo, ya?!", kata Vian heran.
"Enak aja. Enggak kok. Gue gak kenapa-napa...", Gina mencibir sambil berniat menyembunyikan fakta yang jelas-jelas sudah terlihat.
"Kalo lo gak kenapa-napa, kenapa senyam-senyum?!", Vian mulai sewot karena Gina berusaha menyembunyikan fakta kalau dia sedang senang setengah mati.. Lalu memukul Gina dengan bantal Rolling Stone kesayangannya.
"Ck, mau tau aja lo!", Gina berdecak keras sambil menyikut kakak kembarnya yang tengah duduk didekatnya sambil mendengar musik kesayangannya. Dia kesal karena kakaknya ingin tahu apa yang sedang terjadi. Memangnya salah seorang kakak ingin tahu apa yang dialami oleh kembarannya?. Lagian, niat Vian kan juga baik, ingin memberi saran buat adiknya. Karena mendapat respons yang seperti itu, Vian langsung pindah tempat ke sofa di ruang TV dengan gaya tomboy yang khas-nya. Sebenarnya apa sih, yang terjadi sama Gina?.
                                                        
Ternyata, Gina lagi jatuh cinta. Tadi siang, dia bertemu seorang cowok keren. Dia murid kelas XII, sedangkan Gina murid kelas X di SMA Harapan Bangsa. Dia tak sengaja melihat cowok itu sewaktu dia sedang mengembalikan buku ke Perpustakaan. Cowok itu sedang duduk di kursi perpustakaan sambil bersenda-gurau dengan temannya. Kemudian dengan tak sengaja menatap Gina yang ingin mengembalikan buku. Matanya yang teduh membuat Gina meleleh seperti coklat yang tarkena sinar matahari terlalu lama. Ditambah lagi, dengan senyuman tipis di bibir si kakak kelasnya itu. Ginapun semakin salah tingkah...
"Mau ngembaliin bukunya, ya???...", Si cowok itu berdiri mengahampiri Gina yang dari tadi terpaku di depan pintu perpustakaan, terpesona melihat cowok itu.
"Eh, i... iya, Kak. Aku mau ngembaliin buku-buku ini." Kemudian Gina menyodorkan buku-buku yang ingin dikembalikannya dengan salah tingkah. Waaahhh... Kakak ini keren banget..., kata Gina dalam hati dengan girang.
"Oh, ya udah. Kamu isi dulu buku tamunya, terus kasih kartu perpustakaannya ke aku, ya. Biar aku catat...". Lagi-lagi cowok itu tersenyum manis dengan polosnya. Bikin Gina makin gugup berhadapan dengannya. Betapa beruntungnya Gina hari ini, bertemu cowok yang kerennya kayak Kak Naga, vokalis band Lyla yang keren itu... Gina jadi makin girang bukan kepayang. Lalu, dia menuju ke meja yang ada di dekatnya dan menulis nama serta kelasnya dibuku tamu perpustakaan sekolah. Kemudian menghampiri kakak kelas tadi dan memberikan kartu perpustakaannya.
"Ini, Kak. Udah selesai...", Gina malu-malu memberikan kartu perpustakaannya. Pipinya merona merah.
"Oh iya. Tunggu, ya, aku tulis dulu". Cowok itu mengambil kartu perpustakaan Gina, kemudian duduk di kursi yang tadi dia duduki dan mencatat di kartu perpustakaan milik Gina. Cowok itu menulis dengan begitu serius, sampai-sampai gak mendengar apa yang dibicarakan oleh teman-temannya. Cowok itu serius banget..., Gina makin terpesona.
"Ini. Kartumu. Makasih udah ngembaliin bukunya di waktu yang tepat. Rajin-rajin pinjam buku, ya...". Si  cowok itu mengembalikan kartu perpustakaan Gina sambil tertawa kecil. Dia terlihat manis dengan giginya yang putih dan agak gingsul. Kemudian merapikan poninya yang jatuh di dahinya. Jelas saja Gina sudah mencapai terpesona tingkat tertinggi!.
"Iya, Kak. Makasih..", Ginapun langsung berlari keluar perpustakaan dengan girang bukan kepayang. Kemudian melompat-lompat kegirangan melintasi gerbang sekolah. Membuat Mang Hadi, penjaga sekolah geleng-geleng sambil tertawa kecil melihat tingkah Gina. Inikah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?. Tuhan, aku seneng banget bertemu dengan kakak kelas itu... Kata Gina berteriak girang di dalam hati. Makanya, Gina melintasi jalan-jalan yang dia lewati untuk pulang sambil kegirangan. Sampai dirumahpun dia masih terpesona gara-gara kakak kelas itu. Cinta pertama memang terasa nikmat, rasanya seperti meroket ke langit ketujuh dan membuat hati terasa bahagia tak terkira. Benar-benar perasaan yang membuat jantung Gina terus berdebar-debar kencang, memikirkan cowok itu...                                                                                                   -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
 "Gin, Gin!. Lo kenapa???.!!!..", Loly mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Gina sambil kebingungan dan agak panik, takut Gina kesurupan karena semenjak tadi Gina terus melamun.
"Ah... Astaga, Loly!. Lo ngagetin gue aja, ah!", Gina baru tersadar dari lamunannya. Yap, dia sedang memikirkan kakak kelasnya itu. Baru bertemu kemarin aja, tapi rasa suka Gina udah kayak seminggu yang lalu. Sampai-sampai tadi malam Gina tak bisa- berhenti memikirkannya dan memimpikannya. Pesona kakak kelas itu memang kuat, sampai berhasil menarik Gina hingga mabuk kepayang seperti ini..
"Lo kenapa sih, emangnya?. Dari tadi ngelamun mulu.....", sepertinya tingkah Gina akhir-akhir ini benar-benar membuat semua orang heran. Buktinya, Loly juga ikut-ikutan bingung karenanya.. Cinta memang membuat orang jadi "mabuk kepayang", ya. Rasanya gak ingin berhenti buat mikirin orang yang kita suka. Baru sehari gak bertemu orang itu, pasti rasanya langsung rindu. Sama kayak yang Gina rasakan sekarang, pikirannya masih melayang-layang karena cowok itu....
"Ih, si Gina!. Ditanyain malah ngelamun lagi!", Lolypun kesal karena Gina melamun lagi. Dia rupanya kesal karena dicuekin Gina yang sedang "gila" karena cinta ini.. Loly jadi makin kesal dan akhirnya ngambek.
"Eh iya, Ly. Sorry, deh, sorry.....", Kata Gina merasa bersalah pada sahabatnya. Dia mengusap-usap kedua lengan sobatnya. "Iya deh, iya, gue kasih tau.....", Bujuknya pada Loly supaya Loly gak jadi marah. "Gue jatuh cinta, Ly...", lanjut Gina sambil mendekatkan bibirnya ditelinga Loly.
"Hah?!. Lo lagi jatuh cinta??!!.", Kata Loly heboh dengan suaranya yang super keras kayak speaker rombeng. Ekspresi wajahnya juga terlihat sangat berlebihan. Bayangkan, dia melotot hingga matanya hampir keluar dari kelopaknya. Dia begitu antusias ingin tahu siapa orang yang Gina suka.
"Sssstttt.... Pelan-pelan aja, kali, ngomongnya. Lebay banget, sih, lo!. Berisik tahu!, entar kalo yang laen tau gimana?!. Iya, gue suka kakak kelas yang mukanya mirip Kak Naga itu....". Gina membekap mulut Loly, takut ketahuan sama teman-teman sekelasnya yang lain sambil berbisik memberi tahu orang yang dia suka dengan jujur.. Jantungnya pun langsung kembali berbunga-bunga, deg-degan.
"Ooohh.... Kak Fabian?. Dia emang keren sih Gin!. Gue setuju banget lo ama dia!...." Loly mengacungkan kedua jempolnya dengan gaya keren. Membuat mata Gina jadi bersinar-sinar tak percaya.
"Ahhh... Loly!. Lo bener-bener sobat terbaik gue!.." Kata Gina kegirangan sambil memeluk Loly dan mengguncang tubuh Loly. Loly sampai gak bisa nafas gara-gara Gina memeluknya dengan terlalu kuat. Ditambah lagi, guncangan Gina yang bikin Loly serasa lagi kena mabuk laut. Lolypun gelagapan gak kuat  karenanya.
                                                          0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Sepulang sekolah, Ginapun langsung menuju ke Perpustakaan sekolah. Dia ingin bertemu Fabian disana. Kali ini, Loly juga ikut, karena dia mau melihat ekspresi gugup Gina saat behadapan dengan Fabian. Baru melangkah 10 meter dari kelas mereka, Fabianpun langsung lewat dihadapan mereka. Tentunya dengan senyum yang memancarkan pesona. Asli, Ginapun terpana lagi. Rasa deg-degan, gugup, dan salah tingkah bercampur aduk dalam dirinya. Lolypun tersenyum sendiri gara-gara melihat ekspresi Gina yang lucu dan gak karuan karena Fabian.
"Eh, kamu Gina Yuliani Wiyadya, kan?. Mau ke Perpustakaan, ya?."; Fabian menghentikan langkahnya, menyapa Gina yang sedang terkena pancaran pesona Fabian. Begitu Fabian menyebut namanya, Gina jadi makin gugup dan salah tingkah.
"Eh.... I... iya, Kak. Aku sama Loly memang mau ke Perpustakaan..." Pipi Gina langsung memerah, menandakan dia benar-benar gugup. Tuhaaaannnn..... Bagaimana ini?, tolong aku Tuhan..., gumam Gina dalam hati..
"Ya udah, aku juga mau kesana. Yuk, bareng!.", Degdegdegdegdeg..... Jantung Gina berdetak semakin kencang. Sementara Loly, dia masih tertawa -tipis- sendiri melihat ekspresi Gina yang lagi salting. Mereka melanjutkan langkah ke Pepustakaan.
                                                  0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Di Perpustakaan, para siswa penjaga Perpustakaan lain sudah menunggu. Jumlah mereka hanya sedikit, gak sampai lima belas orang. Dari penampilan mereka semua, sih, menunjukkan kalau mereka adalah orang-orang yang kutu buku walaupun gak ada yang berkacamata. Mereka semua tampak jenius dan cerdas....
Fabianpun langsung menyapa mereka semua, kemudian membagi tugas dengan mereka. Ada yang menata buku, ada yang memberi stempel pada buku yang baru, ada yang bersih-bersih, bahkan, ada juga yang cuma diam mengawasi teman-temannya -yang sedang bekerja- yang lain dengan gaya  yang sok pemerintah. Fabian kebagian tugas buat menata buku yang berserakan.
Ginapun langsung mencari buku yang ingin dibacanya. Dia berjalan mengelilingi rak-rak buku yang ada di perpustakaan. Dia sudah menemukan buku yang ingin dibacanya, tapi buku itu terlalu tinggi buat dijangkau. Gina pun berjinjit sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi buat meraih buku itu. Tapi tetap saja buku itu susah dijangkau. Ginapun berusaha melompat, dan Hap!, buku itu kemudian menyentuh tangan Gina. Tapi kemudian... Bruk!. Bukannya digenggam Gina, buku itu malah jatuh menimpa kepala Gina. Auuww, Ginapun kesakitan karena kepalanya ditimpa buku itu. Fabian yang melihatnya, langsung menghampiri Gina.
"Gina!, kamu gak papah kan?!.", katanya agak panik, sambil merapikan buku-buku yang berjatuhan. Hal itu tentu membuat Gina senang bukan kepayang sekaligus malu karena sudah membuat masalah baru. Semua siswa penjaga perpustakaan yang bertugas didekat Gina jadi ikut-ikutan kaget dan panik, sampai ada yang latah gara-gara insiden jatuhnya buku itu.
"Iya, gak papah, kak...", katanya sambil mengusap kepalanya malu. Mukanya memerah padam bagai udang rebus yang baru matang karena diperhatikan oleh banyak orang. Aduduh.. Gina betul-betul ceroboh!.
"Eh, eh... Lo kenapa??!!", Loly langsung menghampiri Gina dengan gaya LEBAY-nya. Dia langsung buru-buru membopong Gina yang jatuh gara-gara tertimpa buku tadi. Wajahnya menunjukkan kepanikan tingkat tinggi.
"Ihh.. Lo ngapain,sih, yang sakit kan kepala gue!. Bukannya kaki gue!". Ginapun sewot gara-gara respons Loly yang berlebihan. Lebih tepatnya SANGAT berlebihan. Dia mendorong-dorong tubuh Loly yang mncoba buat membopongnya dengan wajah kesal.
"Yee... abisnya gue kira lo jatuh kenapa gitu. Gue kan gak tau!". Kata Loly cemberut. Sambil melipat tangannya, bibirnya memaju beberapa senti, sehingga membuatnya jadi mirip sama ikan koi.
"Eeeehhh... Udah, udah, lanjutin lagi, deh pekerjaan kalian..", Fabian cengar-cengir sendiri melihat tingkah duo childish itu. Yang lainpun kembali ketempat masing-masing dan meneruskan pekerjaannya. Gina dan Loly juga langsung kembali meneruskan pekerjaan....
                                                            0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Gina pulang bersama Loly kali ini. Dari tadi Loly terus-terusan bikin puisi gak karuan tentang Gina dan Fabian (ceritanya!). Dia terus melontarkan kata-kata hiperbolis dan menggerak-gerakkan tangannya seakan sedang baca puisi di depan orang banyak.
"Ohh... Kak Fabian, aku suka kamu, aku cinta padamu. Mau kah kamu jadi pacarku?. Gina, aku juga suka kamu, aku mau jadi pacarmu!.", Loly menyair dengan gaya LEBAY sekaligus anehnya. Gina yang mendengarnya jadi campur aduk, ketawa-ketawa sendiri, malu-malu dan heran karena ke-LEBAY-an temannya yang satu ini.
"Ihh... Lo itu, lebay banget, sih. Hahaha.. Gara-gara lo gue jadi ngebayangin...", Kata Gina tertawa kecil dan pipinya merona. Pikirannya mulai berkelana, mulai ngawur.
"Hayo, mikirin apa, nih?. Pasti lo mikirin kalo lo jadian ama Kak Fabian, kan?!. Ayo ngaku!. Bwahaha...", Loly mengejek Gina. Merasa pikirannya udah ditebak sama Loly, diapun menyerah, dengan ngeluarin cengiran kuda. Lolypun tertawa melihat tingkah polos sahabatnya itu.

Dari kejauhan, terlihat sepasang anak SMA yang sedang jalan berdampingan. Mereka terlihat mesra. Si cowok merangkul mesra si cewek. Si cewek juga tampak senang banget sama cowok itu. Tampaknya mereka juga dari SMA Harapan Bangsa. Ya, benar, dilengan kanan seragam merekka tertulis lambang sekolah dan tingkat kelas mereka. Mereka anak kelas XII.
"Gin, gin, lihat, deh. Kayaknya gue kenal cowok yang disana, deh. Yang sama cewek itu...", Loly menyentuh lengakn kiri Gina. Dia merasa gak asing sama cowok itu.
"Yang mana?.", Gina berusaha mencari cowok yang dimaksud Loly. Bola matanya berkeliaran mencari-cari cowok itu.
"Itu, di depan kita. Disana!", Lolypun menunjuk cowok itu karena Gina gak melihatnya. Cowok itupun berbalik. Itu Fabian, cowok yang Gina suka!!. Di papan nama yang terjahit di dadanya tertulis "Fabian Harya Pradipta". Loly kaget dan terdiam membeku dan mulai membuka mulutnya.
"Itu kan, itu kan.... Kak Fabian!!!...",  Sebelum Loly membuka mulut, Gina bicara. Gina kaget, dia terpaku dan gak bisa berkata-kata. Mulutnya terkunci rapat. Jantungnya sakit, serasa ditusuk panah cemburu. Badannya lemas, gak mampu berdiri. Kak Fabian, dia punya cewek???... Dia bertanya-tanya dalam hati. Dia gak kuat menahan perasaannya. Dia langsung menggerakkan kakinya, berlari sekuat tenaga, menahan tangis karena cemburu. Sambil membekap mulutnya, air matanya mengalir tanpa henti seiring dengan langkah kakinya. Hatinya benar-benar terpukul. Sakit. Gak kuat menahan cemburu. Dadanya sesak, gak bisa bernafas. Rasanya hancur gak karuan. Dia terus berlari dan berlari dengan rasa sakit di dada.....

[To be continued...]

Makassar, 09 Mei 2013



-Risty-

















                                                                                                                
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

12
Desain-tanpa-judul
Girl with a lot of dreams and imagination. Writing here to release all of her minds.

Ikuti

Pos Populer

  • Alasanku untuk menjadi seorang Penulis
  • Lagi-lagi Rabu
  • Today Is...
  • Yay!, Masih Ada Yang Membelaku! ^^
  • Kamu....

Kategori

artikel 1 arts 3 blog 38 cerpen 4 cinta 4 cosplay 1 diary 1 diriku 1 dongeng 1 drawing 3 essai 1 experience 1 friends 1 fun 1 hobi 1 idea 1 insprasi 1 journey 1 kreatif 1 love 4 motivasi 4 myself 2 novel 2 pengalaman 1 personal 1 perubahan 1 photography 5 resensi 3 sekolah 1 seru 2 teater 1 teenlit 1 tips 1 unik 1

Berlangganan

Nama

Email *

Pesan *

Risti Fauziyah Habibie. Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Arsip

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  November (1)
      • Jangan pernah tanya apa suku saya!
  • ►  2016 (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2015 (11)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2013 (25)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (5)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2012 (43)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (8)
    • ►  September (5)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (1)

Oddthemes

Populer

  • Alasanku untuk menjadi seorang Penulis
  • Lagi-lagi Rabu

Copyright © Quillatisserie. Designed by OddThemes