Suatu essai yang aku tulis untuk membela keberadaan dongeng-dongeng yang mendidik aku sejak kecil. Dan juga teman-teman para pecinta fairytales di seluruh Indonesia...
Dongeng Hilang Kemana?
Zaman dahulu, kita masih dihadapkan dengan berbagai acara yang menyajikan dongeng anak. Sebut saja, TVRI yang sampai sekarang masih menayangkan acara-acara anak yang menyisipkan dongeng di dalamnya. Saat pendongeng membacakan cerita Si Kancil, anak-anak yang berada di studio langsung mendekat dan mendengarkannya dengan antusisas. Namun apa yang terjadi pada kebanyakan anak-anak zaman sekarang sungguhlah ironis. Mereka lebih memilih untuk "mengkonsumsi" film-film dan sinetron yang tentun saja tak pantas untuk anak-anak seusia mereka.
Kita bisa lihat negara Cina yang menayangkan acara "My Learning Bakery" yang juga tayang di salah satu stasiun televisi swasta kita. Acara itu membacakan dongeng pada anak sekaligus mengajarkan anak untuk memasak makanan yang berhubungan dengan dongeng tersebut. Mereka menyanyi dan menari bersama-sama di akhir acara. Pantaslah saja anak-anak Cina lebih terlihat cerdas, aktif dan ingin tahu dibanding anak Indonesia yang malas dan cenderung pasif.
Banyak orangtua yang belum tahu, dongeng punya banyak manfaat pada perkembangan anak. Memang terkesan membosankan, tetapi membacakan dongeng pada anak dapat mempererat ikatan orangtua dan anak, Dongeng dapat meningkatkan imajinasi anak sehingga kelak anak dapat menjadi pribadi kreatif yang dapat menemukan berbagai inovasi baru. Sehinggs jika terus dibudidayakan membacakan dongeng pada anak, dapat diprediksi, Indonesia dapatmemperoleh cita-cita yang selama ini didambakan, menjadi negara yang mandiri dan mampu mengolah SDA dan SDM-nya dengan baik. Moral-moral dalam dongeng juga dapat membuat anak lebih dapat memilih 'yang baik' dari pada 'yang buruk' jika kita memikirkan lebih luas. Untuk itu penulis dapat menyimpulkan, di dalam satu buku dongeng, terdapat jutaan manfaat untuk membangun generasi emas kita.
Untuk menyukseskan usaha untuk memembudidayakan pembacaan dongeng, kita perlu berbagai aspek untuk mendukungnya. Yang utama, pemerintah. Pemerintah baiknya dapat membuat suatu program pendidikan karakter yang didalamnya dapat dimasukkan unsur dongeng yang dapat digunakan bagi sekolah-sekolah dasar maupun Taman Kanak-Kanak. Program ini dapat diberlakukan untuk anak usia 4 hingga 10 tahun (mulai dari TK hingga kelas 5 SD). Baiknya sekolah juga mendukung program tersebut. Orangtua juga diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai moral yang didapat dari dongen pada anak. Masyarakat tentunya harus ikut membantu suksesnya program yang penulis sarankan ini.
Penulis berharap, dengan adanya essai ini, kita semua dapat sadar akan menfaat dongeng bagi kecerdasan anak serta dapat menerapkan budaya membaca buku, utamanya dongeng bagi anak-anak.
Puisi ini aku tulis saat aku lagi benar-benar kesal, sedih, marah, dan takut di kelas karena teman-temanku mengejekku. Hari itu, kami belajar Matematika, dan aku tak bisa mengajukan jawaban dari soal yang diberikan oleh guruku. Ya, singkat cerita, aku menangis. Bukan karena aku cengeng, aku jadi ingat rasa sakit yang pernah aku alami waktu kecil. Aku dijauhi, aku di 'siksa', aku di cemooh teman-temanku. Maka untuk melampiaskan semua rasa sakit itu, kucurahkan semuanya ke dalam puisi ini untuk semua pengejek di seluruh dunia...
Surat untuk Pengejek
Untuk semua dari kamu
Manusia-manusia tanpa hati nuranimu
Yang bercabang lidahmu
Dan rusak hatimu
Maafkan aku menulis ini
Hari ini
Perasaan harus ditumpahi
Di kertas putih berseri
Terima kasih atas busukmu
Bisa yang beracunmu
Kata-kata tercelamu
Segala lakumu
Dua belas Januari
Kau sebar duri
Kau sentak hati ini sembari
Mengetuk detak memori
Mulutmu sungguh jalang
Tak terbayang
Bagai binatang
Tanpa kandang
Panah tajam kau tancapkan
Jahatmu terungkapkan
Dalam hati aku tertekan
Menggeram tak memaafkan
Hari esok mari dinanti
Suatu saat kau 'kan meniti
Hidup yang tersakiti
Tanpa ampun sampai mati
Kau akan rasa
Dirimu rasa mati rasa
Saat kau disiksa
Oleh cambukan sang Perkasa
Maaf, kutulis ironi
Dihari ini
Dendam hati ini
Ingin mengubah hidup ini
Ini untukmu kawanku
Yang lidahnya setajam paku
Membawa retak benakku hingga ujung kuku
Risti Fauziyah Habibie, di kelas
Title: Jurnal Jo
Author: Ken Terate
Genre: Fiksi/Teenlit
Josephine adalah seorang gadis kecil yang baru menginjak masa remaja. Dia adalah sosok remaja yang rajin, meskipun kadang agak ngawur. Dia menjuluki kelurganya sebagai keluarga yang aneh. Ibunya seorang guru Bahasa Inggris di salah satu SMA swasta, dan ayahnya seorang guru Bahasa Jawa yang mengajar di sekolahnya sendiri. Dia punya dua adik, Sophie yang pendiam dan berpikiran lebih dewasa darinya, serta Kevin yang jorok dan suka meniru kata-kata orang. Juga seorang sahabat yang bernama Sally yg dimilikinya sejak SD. Menurut Jo, masa remajanya mengerikan dan kadang dia berpikir untuk tidak usah tumbuh. Dia sangt merindukan masa SD-nya. Apalagi sekarang dia mulai kehilangan sahabatnya dan dikhianati oleh cowok yang dikaguminya. Tapi itulah masa remaja Jo, MENGERIKAN!.
Buku ini ditulis oleh seorang asli Jawa, Ken Terate. Pertama kali diterbitkan thun 2008. Buku yang memiliki panjang 20 cm ini, memiliki tebal 240 halaman. Aku sendiri pertama kali baca buku ini saat aku kelas VII (1 SMP). Sekilas, dari luar, novel ini terlihat sama saja dengan novel lain. Namun, ketika membaca bagian dalamnya, kitapun kan tertarik karena novel ini berbeda dari novel lainnya. Novel ini berbentuk jurnal, ditambah dengan kata-kata yang menggelitik, kamu akan makin betah berlama-lama membaca buku ini.
Aku suka dengan Jo, dan bahkan sangat mengaguminya dari dulu. Karena menurutku dia sosok yang tegar dalam menghadapi semua coban. Mulai dari dimanfaatkan oleh cowok yang disukainya sampai kena imbas karena dituduh mempermalukan sahabatnya. Ken Terate benar-benar penulis yang berbakat, dia dapat mengolah dan meracik kataskat humor menjadi cerita yang menghibur dan tidak membuat kita bosan, seperti novel ini.
Kelemahan:
Celotehan Jo dalam buku ini kadang agak tidak sesuai dengan apa yang harusnya ingin dia sampaikan. Namun, itu justru memperkuat karakter Jo yang masih labil dan pembaca akan berpikir bahwa Jo itu benar-benar ada.
Rekomendasi:
Jika kamu ingin mengetahui lebih lanjut tentang kisah Jo dan masa remajanya, kamu juga bisa melengkapinya dengan 2 serial lanjutan buku ini: Jurnal Jo: Online; dan Jurnal Jo 3: Episode Cinta. Kamu akan makin tahu betapa mengasyikannya kisah hidup Jo yang ruwet dan mengerikan ini!.