*Ini cerpenku yang baru, disimak, ya!!!! ^^
Terik matahari yang menyinari pagi mulai
menyapa. Cahayanya menembus jendela kamarku. Kokokan ayam juga mulai terdengar.
Aku yang masih terlelap mencoba membuka mataku. Tiba-tiba, terdengar suara
langkah kaki yang tak asing. Lalu disusul dengan ketukan pintu. "La, sudah
bagun?!", itulah suara yang terdengar berikutnya. Dengan cepat, akupun
langsung merapikan kamaruku. "Ya!!!," jawabku membalas. Lalu, aku
buka pintu kamarku. Sesosok wanita cantik paruh baya muncul. Ya, itulah Mamaku.
"Cepat, mandi." kata Mama dengan lembut selanjutnya. "Iya,"
jawabku membalas. Akupun segera mengambil handuk dan bergegas berlari ke kamar
mandi. Memburu waktu yang terus berjalan.
***********
Setelah rapi, akupun merias tubuhku. Aku
memandangi wajahku di depan kaca. Wajah yang begitu lugu dan polos. Aku mirip
seperti orang tuaku. Wajah dan sifat kami tak jauh berbeda. Mama suka musik,
aku juga. Papa suka menulis, aku juga. Aku terus memandangi wajah lugu dan
polosku yang tergambar didepan kaca. Aku
mulai masuk ke dalam lubang lamunanku. Memikirkan "mau jadi apa aku
nanti?". Mau jadi musisi, penulis atau keduanya. Masa depanku memang masih
panjang. Sangaaat panjang. Tetapi, aku tak tahu entah kenapa aku selalu
memikirkan hal itu.
Dug!,
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Dengan
sekejap, suara itu membuyarkan lamunanku. Dengan segera, aku mencari benda itu.
Sebuah botol kecil berisi secarik kertas terlihat di kolong meja. Akupun
berusaha meraihnya. Lalu, kubuka botol tersebut dan kubuka secarik kertas itu.
Ternyata, ucapan ulang tahunku dari Papa dan Mama. Mungkin, Papa dan Mama
sengaja menaruhnya disini. Karena, tepat favoritku adalah meja rias. Aku hampir
lupa, hari inii aku genap berusia 16 tahun. Usia yang bukan anak-anak lagi.
Usia dimana petulangan pencarian jati diriku dimulai. Aku sedikit menyesal
karena tak sempat memberi ucapan ulang tahun waktu ulang tahun Papa seminggu
yang lalu. Tiba-tiba hatiku mulai tergelitik dengan suasana haru yang tiba-tiba
muncul. Aku teringat akan kesalahan yang telah kuperbuat pada kedua orang
tuaku. Begitu banyak kesalahan yang kuperbuat. Tak terhitung bagai debu.
Tiba-tiba, air mataku mulai berlinang. Aku benar-benar terharu dengan keadaan
ini. Suara tangisanku mulai keluar dari pita suaraku. Lalu, semakin keras. Aku
benar-benar tak bisa menahan tangisanku. Aku juga mulai teringat dengan masa
kecilku, sewaktu aku masih ditimang dan di manja oleh Papa dan Mama. Rasa kasih
dan sayang yang terus mengalir dari uluran tangan yang selalu memanjakanku,
memelukku penuh kasih sayang. Melodi indah yang pernah keluar dari bibir lembut
kedua orang tuaku sewaktu menimangku mulai tergiang ditelingaku. Sungguh
saat-saat yang tak terlupakan. Saat dimana
kasih sayang terus membelaiku setiap saat. Ingin rasanya kembali ke masa
itu. Aku rindu beaian yang lembut itu, pelukan yang penuh kasih sayang, melodi
yang indah itu. Aku rindu semuanya. Akupun langsung menghentikan tangisanku
mengingat waktuku yang terbuang. Aku membuka pintu kamarku menuju ke meja
makan, tempat dimana setiap pagi, Papa dan Mama selalu menantiku setiap pagi.
"Kenapa matamu merah, nak?." tanya
Papa begitu aku sampai di meja makan. Akupun langung membersihkan mataku.
" Lila habis menangis, Pa." jawabku jujur. Aku tak berani bohong
kepada kedua orang tuaku. "Lila terharu melihat ini." lanjutku sambil
memperlihatkan botol kecil yang berisi secarik kertas itu. Papapun langsung
mengambilnya dan melihat isi kertas itu. Papa hanya tersenyum begitu melihatnya.
"Ini Papa dan Mama buat untuk Lila. Papa dan Mama sayang sama Lila."
kata Papa dengan lembut. Air matkupun tang sanggup kutahan lagi. Akupun menagis
dan menghampiri Papa dan Mama. Mencurahkan air mataku di pangkuan mereka.
"Sudahlah,nak. Udah hampir siang, tuh. Pergi sekolah dulu." kata Mama
meredakan tangisanku. Akupun langsung mengusap air mataku yang mengalir deras.
Akupun bergegas keluar rumah. "Pa, Ma, Lila berangkat.
Assalammua'alaikum", Akupun segera menuju bus stop.
Untungnya, bus sudah tiba di bus stop, akupun
langsung masuk kedalam bus . Dalam hati, aku berdoa, agar aku diberi
keselamatan dan ilmu yang bermanfaat demi masa depanku nanti. Aku mau belajar
agar aku dapat membahagiakan kedua orang tuaku kelak. Aku ingin membahagiakan
orang tuakaaku sebagaimana mereka telah menyayanggiku selama ini. Cinta dan
kasih sayang mereka tidak bisa kubalas dengan apa-apa. Hanya dengan prestasi
aku bisa membalas jasa kedua orang tuaku. Aku bertekad untuk jadi orang yang
berguna dimasa depan. Demi Papa dan Mama, aku akan melakukannya.
***********
Aku tiba disekolah. Tempatku menimba ilmu
sekaligus tempat terfavoritku. Selain bisa mendapatkan ilmu, disini aku juga
bisa menyalurkan bakat keterampilanku dan tentunya bertemu dengan teman-teman
yang baik hati. Aku sangat suka sekolah.
"Lila!!!!!", teriak seseorang dari
belakang. Sepertinya aku pernah mendengar suara itu. Tapi, aku sudah lupa
dimana aku pernah mendengar suara tegas itu. Akupun berbalik memalingkan
wajahku untuk memasikan siapa yang memanggilku. Ternyata, Revan, sahabatku
waktu SMP dulu. Rupanya, dia masih mengingatku. Padahal, kami berdua sudah lama
tak berhubungan. Aku jadi ingat waktu SMP dulu, kami sering pulang bersama,
belajar bersama. Ya, kami sudah seperti kakak beradik. Revan adalah sahabat
terbaikku waktu SMP.
"Hehe, Revan?!. Kamu sekolah disini?. Kok
aku gak pernah melihatmu, ya?", gumamku polos. Aku tidak tahu kalau
ternyata Revan sekolah disini. Mungkin, dia jarang keluar dari kelasnya. Revan
memang tipe cowok yang pendiam. Waktu SMP, dia jarang keluar kelas. Teman
perempuannya dikelas, hanya aku. Tak ada yang lain. Revan juga sering curhat
denganku. Biasanya, dia curhat tentang berbagai hal, mulai dari pemasalahan
sekolah sampai masalah pribadi. Semuanya dia curahkan padaku. Aku bagaikan buku
harian tempat dia mencurahkan seluruh perasaannya. Revan, kamu memang sahabat
terbaikku, gumamku dalam hati.
"Eh?. Kamu gak tahu, ya?.
Sedihnya..." kata Revan sambil pura-pura menekuk wajahnya. Revan yang
kekanak-kanakan terlihat manis dan lucu dengan ekspresi wajah seperti itu.
Menurutku, Revan adalah laki-laki yang baik dan lugu. Aku sangat senang
berteman dan bersahabat dengannya. Tiba-tiba pikiranku langsung tertuju pada
kenangan kami sewaktu masih SMP. Benar-benar kenangan yang tak terlupakan dan
takkan pernah kulupakan. Aku sangat merindukannya. Masa-masa yang penuh warna
dan keceriaan.
"Ah, maaf ya. Aku jarang keluar dari
kelasku. Soalnya, kamu tahu sendiri, kan?. Aku lebih suka di dalam kelas."
Aku menjawab dengan perasaan penuh malu. Jujur, aku merasa bersalah pada Revan.
Selama ini, aku mengabaikannya. Bahkan, aku hampir melupakannya, wajahnya, dan
seluruh kenangan yang kami lewati. Terkadang, aku menyesali semua yang telah
terjadi. Aku merasa itu semua terlalu cepat berlalu. Andai waktu bisa terulang,
pasti aku akan memperbaiki masa laluku. Tapi, apa boleh buat, aku tak bisa. Aku
hanyalah manusia biasa.
"Gak apa-apa, kok." Ah, Revan.
Sampai kapan kamu akan bersikap polos seperti itu padaku?. Kamu sangat baik,
bahkan, aku hampir tak mampu membalas semua kebaikanmu. Kamu benar-benar orang
yang hebat, gumamku dalam hati. "Oh, iya, hari ini ulang tahunmu, kan?.
Aku hampir lupa, Selamat ulang tahun, ya, Miss Chemistry!!!." Revan mengucapkan
"ulang tahun padaku". Sungguh, aku tak percaya, dia masih mengingat
hari ulang tahunku, bahkan julukan yang dia berikan kepadaku ketika masih SMP.
Terima kasih, Tuhan, Engkau telah menjadikan hari ini hari yang paling
membahagiakan dalam hidupku. Ya Tuhan, aku mohon jadikanlah hari ini hari yang
tak terlupakan bagiku.
"Terima kasih, ya...." Mataku mulai
berlinang. Ingin rasanya menumpahkan air mataku disini. Aku benar- benar
terharu atas semua ini. Terima Kasih, Papa, Mama, Revan, terima kasih.... Kalian
telah memberi kebahagiaan yang tak terlupa dan tak akan kulupakan seperti ini.
***********
Tak terasa, dua tahun setelah kejadian yang
tak terlupakan itu berlalu sudah. Kutulis surat untuk Papa dan Mama untuk Papa
dan Mama yang berada di Tanah Air dengan penuh perasaan bahagia dan terharu.
Kini, waktuku untuk meniti kehidupanku dengan baik. Waktuku untuk mewujudkan
cita dan harapan yang selama ini kudambakan. Waktuku untuk memulai semua hal baru.Tuhan, sampaikanlah salamku pada Papa dan Mama bahwa aku sangat
merindukan mereka. Papa, Mama, doakan Lila, ya, Lila akan berusaha untuk
menjadi orang yang berguna bagi Papa dan Mama juga untuk semua orang. Aku akan
selalu mengingat pesan Papa dan Mama. Aku akan belajar untuk membalas semua
jasa Papa dan Mama.
Tiba- tiba, ponselku berdering. Merdu, seperti
simfoni yang menyejukkan hati. Dengan segera kulihat poselku dengan penuh
penasaran. Rupanya, telfon dari Revan Adrian, orang yang selama ini selalu
memberikan kebahagiaan dan keceriaan penuh warna untukku sekaligus orang yang
paling kukagumi. Ketulusan hatinya membuatku luluh dan menyerah. Dia adalah orang
yang selau kunantikan keberadaanya. Tanpanya, aku tak mungkin bisa seperti ini.
Dia seperti malaikat yang turun dari langit membawa ketenangan di hati ini.
Dialah orang yang istimewa bagiku. Aku
sangat...... menyukai dan mencintainya.

0 comments