Hi.. Risty balik lagi nih... :D. Inilah kisah cintaku di dunia nyata. Aku nulis ini di Gorontalo... :D. Silakan dibaca, ya. Hehe..:D.
-True Story-
Inilah kisahku dengannya...
Kami akrab kembali, berkat seorang teman. Kami akrab seperti dulu lagi, waktu kami duduk di kelas VII lalu. Kami selalu berkirim pesan di ponsel. Kami bagaikan anak kembar yang "terpisah". Kesamaan dan kecocokan karakter kami membuat kami akrab. Dia baik, selalu menyemangatiku, selalu mendukungku, selalu menghibur dengan lelucon, kata-kata gombalnya, dan juga hinaannya. Dia tetap "manis", walaupun keras kepala. Sedikit demi sedikit dan seiring waktu berlalu, aku mulai meyukainya.....
"Lagi apa?", itu bunyi pesan yang selalu kudapat darinya saat itu, hampir setiap hari aku mendapatkan pesan itu diponselku. Sontak, pipiku memerah setiap membacanya, aku berteriak dalam hati. Menggaruk-garuk kepala sendiri dan salah tingkah. Dengan senang hati, aku selalu membalas pesan itu sesuai dengan apa yang terjadi. "Aku suka kamu.", aku berkata dalam hati.
"Kamu manis, kamu keren, aku suka kamuuuu...", hatiku gak bisa berhenti mengatakan itu setiap hari. Berbunga-bunga duniaku karenanya. Semua terlihat bersinar, gak kurang apapun. Terasa sempurna karenanya. Rasa sukaku terus memenuhi hati ini, degupan kencang selalu mengiringi disaat aku mendapat pesannya. Aku gak bisa pungkiri, aku suka dia....
Di tanggal 12 Agustus, jam 9:30 malam, ponselku bergetar tanda panggilan masuk. Aku terbangun, dan melihat siapa yang menelpon. Aku benar-benar tersontak begitu melihat namanya terpajang dilayar ponselku. Pelan-pelan aku mengangkat telponnya. "Halo...", di waktu yang bersamaan, kami bicara dengan nada malu-malu. Pipiku memerah, rasanya badan ini mau meleleh... Perlahan-lahan, dia memulai pembicaraan dengan nada yang terdengar agak terbata-bata. Suasana canggung sekaligus malupun tercipta diantara kami. Cerita kami terus berlanjut, dan akhirnya terputus karena kebodohanku yang tidak sengaja menekan tombol untuk mengakhiri panggilan. Itulah saat-saat yang tak terlupakan bagiku.
Tapi sekarang, kami jauh. Seakan ada tembok besar yang memisahkan kami. Kami gak lagi berhubungan. Aku menahan sakit, sementara dia.... perlahan-lahan menghilang dari kehidupanku...
*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*
Begitu dia hilang, kini aku nyesel + MARAH, benci sama dia. Ngutuk dia habis-habisan, kini menjadi rutinitasku. Gak tahu, begitu sulit otak ini menghapusnya, cinta yang bersemi selama setahun terakhir ini. "Aku benci dia, benci!". Tapi di hari lain, aku bakalan bilang... "Aku rindu dia. Lagi apa ya, dia sekarang?.". Itulah yang selalu ada di otak ini. Aku nyesel, karena suka sama dia, seorang yang selalu dikelilingi cewek-cewek. Yang selalu mendekati perempuan. Dan selalu berubah seiring dengan waktu. Aku nyesel, suka sama dia. Yang memang terbiasa hidup dengan perempuan. Nyesel, karena terlalu berharap dia ngebales perasaan ini. "Tolong, menghilanglah dari otak ini. Aku sudah lelah, lelah berharap dan lelah menunggu...". Begitulah otak ini selalu meminta....
Kata-katanya yang manis ke cewek, membuat ia begitu populer. Seakan seperti idola di kalangan para cewek. Tapi, dia juga begitu menyakitkan hati, bibirnya yang manis, tiba-tiba berubah jadi pedas dan mengeluarkan kata-kata pahit. Itulah dia, si Geminian yang lahir tanggal 13 Juni 1997, cowok yang paling lama menempati hatiku.
"Please, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku....", Kata-kata itu masih tersimpan di otakku, selalu membawa harapan dihati. Sekaligus membuka memori di bulan Juni lalu. Saat dimana dia tiba-tiba menjauh dariku dan beralih ke cewek lain. Mereka saling menyukai, dan akhirnya pacaran. Mungkin semua ini salahku, karena selalu bersikap dingin disaat dia mendekat. Itu semua aku lakukan karena... aku malu, dan aku suka dia...
Bulan Mei lalu, saat yang mendebarkan bagiku. Itulah saatku menyatakan cinta, walaupun secara gak langsung. Kutulis semua isi hati, kuluapkan segala perasaan, kudeskripsikan dirinya sedetail mungkin. Namun dia tetap tak menyadarinya, dan selalu bertanya... "Siapa, siapa?", seolah berharap kalo orang itu dia. Dia gak tahu, gak tahu. Aku gak menjawabnya, kubiarkan dia tahu, kubiarkan dia merasa, tapi, dia malah hilang setelah itu. "Apa masih belum cukup pernyataanku ini?. Apa masih kurang?!. Kamu belum sadar juga?. Aku jelas-jelas menyukaimu...", kugenggam kedua tanganku gemas saat itu, berteriak dalam hati.
"Malam ini, harusnya dipenuhi bintang-bintang, tapi malah hujan bertubi-tubi. Aku tahu, kamu itu diperebutin cowok. Aku marah, benci sama kamu. Aku benci. Aku marah, seakan perasaan cinta ini sudah habis.". Kira-kira, begitulah bunyi pesan yang pernah dia kirim di ponselku sekitar bulan Februari lalu. Bertepatan di saat itu pula, foto-ku (yang menunjukkan kedekatanku dengan cowok lain) terpampang di profil facebook-ku. Dan tergambar jelas, bahwa dia lagi marah saat itu. Pesan itu membawa harapan... Apa orang itu aku?. Apa dia aku?. Aku benar-benar gak tahu siapa cewek yang dia sindir waktu itu. Dan sampai sekarang itu masih terus menghantui otakku. "Apa orang itu aku?. Atau cewek yang dia pacari sekarang?. Atau cewek lain?". Pernyataannya terus berstatus sebagai misteri besar di otakku.
"Apa yang tersembunyi dari senyuman manismu. Apa yang tersembunyi dari manis wajahmu....", status facebook-nya, menambah harapan di hatiku yang jumlahnya sudah jutaan ini. Aku merasakan sesuatu, entah apa. Rasanya deg-degan, namun sepertinya bukan karena jatuh cinta. Tapi pertanda akan sesuatu yang terjadi dengannya. Aku mulai gelisah, terus berpikir. "Siapa dia?", berkali-kali kata-kata itu menghantui.....
Aku menulis, meluapkan perasaanku, yang aku rasakan saat itu. Mengatakan bahwa aku TULUS, gak peduli dia membalas perasaan ini atau gak. Aku berjanji buat terus bertahan dan menunggu. Sekaligus berharap, dia akan dekat lagi denganku..
"Kamu pengen deket sama aku lagi, yang selalu nyakitin hatimu?.". Aku tahu, rasa bersalah menghujam hatinya, menhujani dirinya. Terasa sakit begitu melihatnya. Aku begitu merasakan rasa bersalahnya. Hatiku sakit... "Iya, gak apa....", kedua tangan ini mengetik kata-kata polos ini. Diapun bilang maaf, dengan luapan rasa bersalahnya.
"Aku gak tahu, kapan aku bisa memaafkanmu. Aku ini tipe orang yang susah banget buat memaafkan orang yang udah nyakitin hatiku... Maaf, ngasih jawaban yang gak pasti. Semoga bahagia dengannya....", Air mata hampir mengalir setelah mengatakan itu padanya. Hati ini begitu sakit, entah kenapa... Sakit, sakittt...
"Kenapa kamu gak maafin aku?. Padahal, kan, aku pengen kita berdua kayak dulu. Kita berdua yang saling pengertian...". Kata-kata ini... terkesan begitu egois memang. Harusnya aku bahagia, tapi aku malah menitikkan air mata. Aku gak sanggup menahan air mataku di saat itu, air mata mengalir dengan sendirinya. Berkas-berkas harapan kecil muncul dihati ini. Kedua perasaan sedih dan gembira, bercampur jadi satu.
"Sayang.... Maafin aku. Ngasih perhatian buat orang lain. Ini cuma satu menit kok, cuma satu menit.". Deg!, serasa panah menusuk jantung ini. Air mataku mengalir dalam hati, membanjiri dan membuat kolam penyesalan dalam hati. Disitulah saat aku membencinya. Disitulah aku mulai mengutuknya. Aku benci dia, benar-benar benci dia. Aku benci dia, karena selama ini, dia selalu memberi harapan yang gak jelas. Aku benci, benci, benci dia. Air mataku gak kuat lagi menumpahkan air mata. Udah terlalu banyak air mata yang kukeluarkan untuknya. "Jadi apa arti dari kisah kita?!. Apa maksudmu?!. Kamu begitu tega!!. Aku gak akan memaafkanmu...", amarah dalam hatiku tersampaikan dengan air mata yang perlahan mengalir bersama larutan rasa sakit....
Dan disaat itulah, kami mulai terpisah. Berjalan berbeda arah...
Auuuww.. memang begitu sakit rasa ini. Sampai sekarang, rasa ini belum sepenuhnya terobati. Makanya aku berjanji, akan mencari lagi pujaan hati yang lebih baik darinya. Akan mencari yang lebih darinya. Tapi aku juga janji, kalau nanti dia akan datang, aku akan menerimanya setulus hati...
Kinipun, kadang, aku masih mengutuknya. Tapi aku juga merindukannya. Aku rindu saat-saat kami tertawa sama-sama, aku rindu saat-saat kami bercanda, aku rindu kata-kata manisnya, aku rindu hinaannya, aku rindu nasihat-nasihatnya, aku rindu ke-keras kepala-annya, aku rindu semuanya. Semua tentang dirinya...
Aku gak bisa apa-apa lagi, aku tahu, yang mesti dan harus kulakukan sekarang adalah PASRAH. Menanti, dan menanti jawaban itu datang...
*******************
Our never forgetfull moments...
> Disaat aku takut, dia menemaniku (walaupun hanya dengan kata-kata di pesan) sampai larut malam...
Aku: "Aku takut...."
Dia: "Sini, aku temani, gak apa-apa..."
Aku: "Emang kamu gak takut?.."
Dia: "Gak... Aku kan laki-laki, masa takut sama yang 'begituan'?..."
Aku: "Ooohh"
..........
Dia: "Udah. tidur aja sana. Udah malem, loh.."
Aku: "Makasih.."
Dia: 'Sama-sama"
> Disaat kami sakit di hari yang bersamaan, kami saling mendoakan supaya cepat sembuh...
Dia: "Lagi apa?"
Aku: "Lagi tiduran..."
Dia: "Gak sekolah??.."
Aku: "Gak, aku lagi sakit.."
Dia: "Ooohh.. Aku juga lagi sakit..."
Aku: "Eh, sama dong..."
Dia: "Iya. Ya udah semoga cepet sembuh..."
Aku: "Makasih. Kamu juga..."
Dia: "Makasih.."
Aku: "Sama-sama.."
> Dia selalu sabar mendengarkan curhatku... Mata dan hatinya selalu siap membantuku menyelesaikan masalah... Dia selalu ada disana setiap aku sedang kehilangan arah. Akalnya selalu bekerja buat membantuku menyelesaikan masalah. Dia memang baik. Tulus, gak pernah mengharapkan imbalan...
> Dia selalu menyelingi cerita kami dengan berbagai lelucon, hinaan, kata-kata manis, semangat dan keceriaan yang semakin membuatnya kian bersinar dihatiku. Walaupun ada masalah yang menimpanya, dia selalu terlihat ceria. Itulah yang membuatku suka padanya...
> Dia selalu memberi kebahagiaan yang gak terkira walaupun dia agak keras kepala dan terkesan sok tahu. Tapi dia perhatian dan cerdas...
> Kata-katanya selalu membawa semangat dalam diri ini. Rasanya dia itu seperti "ksatria" yang selalu memberi semangat dan selalu melindungiku. Rasanya, dia seperti benar-benar ada disampingku, menemaniku.... Pesonanya begitu nyata...
> Dia seperti kakakku, selalu memberi nasihat buatku. Nasihatnya sangat membantuku buat mewujudkan keinginanku. Itu membuatku merasa seperti adiknya dan dia selalu melindungiku...
"Rasanya, setiap mengenang kenangan yang pernah kulalui dengannya terasa bahagia. Rasanya, selalu ingin tertawa mengenangnya. Tapi gak jarang juga semua kenangan itu justu membuat hati ini perih, mengingat perubahan yang terjadi berkali-kali pada dirinya. Kadang dia begitu lucu dan menyenangkan, tapi juga menyakitkan, sama seperti kisah ini jika dikenang, membawa kebahagiaan, tapi gak jarang juga membuat hati ini perih..." -Me
---------------------------------------
Sepatah kata dariku untuknya...
Kamu yang disana, yang gak pernah sadar bahwa aku menyukaimu...
Maaf, aku tahu kamu pernah sakit hati karena perlakuanku dulu, yang cuek sama kamu, dan gak peduli sama kamu. Maaf, aku tahu itu begitu menyakitkan...
Maaf juga, aku gak bisa menyatakan perasaanku ini waktu kamu tanya tentang orang yang aku suka. Karena orang itu adalah kamu, makanya aku malu buat menyatakannya...
Maaf aku gak bisa jujur tentang perasaan ini. Maaf, udah membuatmu selalu penasaran dan geregetan karena pengen tahu siapa orang yang aku suka. Maaf karena membuatmu menunggu jawabannya.
Karena orang itu adalah kamu....
Maaf juga, selama ini, aku udah memberi perhatian yang berlebihan terhadapmu, yang mungkin membuatmu agak merasa risih, terganggu dan mungkin bingung. Kamu tahu, semua itu aku lakukan karena aku suka kamu. Maaf karena aku terlalu lama buat jujur tentang ini. Maafkan aku yang terlalu berharap buat memilikimu, tetapi melepasmu begitu saja. Bahkan gak peduli sedikitpun padamu. Mungkin kamu merasa seperti itu dan kesal karena itu...
Aku tahu perasaanmu, tapi sebenarnya gak begitu...
Aku diam bukan karena bosan. Aku diam bukan karena jenuh. Aku diam dan cuek sama kamu karena pengen tahu seberapa perhatianmu dan seserius apa kamu sama aku. Maaf, jika itu terasa menyakitkan buatmu. Maafkan aku, maafkan aku....
Kini, setahun yang indah itu berganti dengan perasaan sesal dihati...
Bayangkan betapa banyak kisah yang pernah kita ukir di buku sejarah kisah kita. Bayangkan betapa banyak hal-hal indah dan manis serta menyakitkan yang pernah kita lalui.
Aku minta satu hal untukmu, aku mau kamu gak melupakannya meskipun aku pernah bilang "lupakanlah...". Jangan lupakan kisah kita ya, tapi lupakanlah kesakitan yang pernah kita alami. Jadikanlah kisah-kisah kita sebagai sebuah pelajaran buat masa depan....
Aku percaya, akan ada akhir bahagia dari kisah ini. Untuk itu, kumohon jangan melupakannya. Kalau kamu mau lupakan aku, segera lupakanlah aku yang selalu membuat hatimu sakit. Tapi jangan lupa, disini ada orang yang mau kamu kembali lagi, dan selalu berharap suatu keajaiban akan datang padanya...
Hehe, maaf ya, aku selalu membuatmu pusing karena tingkahku yang misterius dan selalu berubah pikiran. Yang mungkin kadang gak nyambung. Itulah aku. Aku pengen menunjukkan diriku yang sebenarnya padamu....
Aku harap kamu bahagia, selalu bahagia, dan diberi panjang umur oleh Allah disana...
NB: Aku masih kesal karena sikapmu yang waktu itu. JUJUR, aku juga masih marah gara-gara itu. Tahu sendiri kan, ini juga begitu menyakitkan buatku. Aku akan berusaha memaafkanmu sebisaku. Aku bakalan menunggumu kembali lagi, kok....
-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-
Tahun 2012, kami akrab lagi berkat seorang teman. Setiap hari, kita bercanda bersama, berbagi keluh kesah bersama, kecewa bersama. Setahun kita lewati dengan liku-liku perjalan hidup. Setahun yang manis itu kini mulai lenyap, tak lagi bersinar terang seperti dulu. Rasa sesal menyelimuti hati. Kita berdua tak lagi bersama. Rasa pedih yang gak terlupakan. Amarah dalam hati.. Semuanya aku rasakan. Sekarang, tak lagi seperti dulu. Semua berubah seiring waktu. Apa kami masih bisa kembali seperti dulu lagi?. Atau sebaliknya?. Itulah misteri kisah kami yang belum terpecahkan jawabannya. Biarlah waktu dan takdir yang akan menjawabnya nanti...
[This is my real love story. My beautiful and painful love story....]
Gorontalo, 15 Agustus 2013
-Risty-
-True Story-
Inilah kisahku dengannya...
Kami akrab kembali, berkat seorang teman. Kami akrab seperti dulu lagi, waktu kami duduk di kelas VII lalu. Kami selalu berkirim pesan di ponsel. Kami bagaikan anak kembar yang "terpisah". Kesamaan dan kecocokan karakter kami membuat kami akrab. Dia baik, selalu menyemangatiku, selalu mendukungku, selalu menghibur dengan lelucon, kata-kata gombalnya, dan juga hinaannya. Dia tetap "manis", walaupun keras kepala. Sedikit demi sedikit dan seiring waktu berlalu, aku mulai meyukainya.....
"Lagi apa?", itu bunyi pesan yang selalu kudapat darinya saat itu, hampir setiap hari aku mendapatkan pesan itu diponselku. Sontak, pipiku memerah setiap membacanya, aku berteriak dalam hati. Menggaruk-garuk kepala sendiri dan salah tingkah. Dengan senang hati, aku selalu membalas pesan itu sesuai dengan apa yang terjadi. "Aku suka kamu.", aku berkata dalam hati.
"Kamu manis, kamu keren, aku suka kamuuuu...", hatiku gak bisa berhenti mengatakan itu setiap hari. Berbunga-bunga duniaku karenanya. Semua terlihat bersinar, gak kurang apapun. Terasa sempurna karenanya. Rasa sukaku terus memenuhi hati ini, degupan kencang selalu mengiringi disaat aku mendapat pesannya. Aku gak bisa pungkiri, aku suka dia....
Di tanggal 12 Agustus, jam 9:30 malam, ponselku bergetar tanda panggilan masuk. Aku terbangun, dan melihat siapa yang menelpon. Aku benar-benar tersontak begitu melihat namanya terpajang dilayar ponselku. Pelan-pelan aku mengangkat telponnya. "Halo...", di waktu yang bersamaan, kami bicara dengan nada malu-malu. Pipiku memerah, rasanya badan ini mau meleleh... Perlahan-lahan, dia memulai pembicaraan dengan nada yang terdengar agak terbata-bata. Suasana canggung sekaligus malupun tercipta diantara kami. Cerita kami terus berlanjut, dan akhirnya terputus karena kebodohanku yang tidak sengaja menekan tombol untuk mengakhiri panggilan. Itulah saat-saat yang tak terlupakan bagiku.
Tapi sekarang, kami jauh. Seakan ada tembok besar yang memisahkan kami. Kami gak lagi berhubungan. Aku menahan sakit, sementara dia.... perlahan-lahan menghilang dari kehidupanku...
*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*
Begitu dia hilang, kini aku nyesel + MARAH, benci sama dia. Ngutuk dia habis-habisan, kini menjadi rutinitasku. Gak tahu, begitu sulit otak ini menghapusnya, cinta yang bersemi selama setahun terakhir ini. "Aku benci dia, benci!". Tapi di hari lain, aku bakalan bilang... "Aku rindu dia. Lagi apa ya, dia sekarang?.". Itulah yang selalu ada di otak ini. Aku nyesel, karena suka sama dia, seorang yang selalu dikelilingi cewek-cewek. Yang selalu mendekati perempuan. Dan selalu berubah seiring dengan waktu. Aku nyesel, suka sama dia. Yang memang terbiasa hidup dengan perempuan. Nyesel, karena terlalu berharap dia ngebales perasaan ini. "Tolong, menghilanglah dari otak ini. Aku sudah lelah, lelah berharap dan lelah menunggu...". Begitulah otak ini selalu meminta....
Kata-katanya yang manis ke cewek, membuat ia begitu populer. Seakan seperti idola di kalangan para cewek. Tapi, dia juga begitu menyakitkan hati, bibirnya yang manis, tiba-tiba berubah jadi pedas dan mengeluarkan kata-kata pahit. Itulah dia, si Geminian yang lahir tanggal 13 Juni 1997, cowok yang paling lama menempati hatiku.
"Please, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku....", Kata-kata itu masih tersimpan di otakku, selalu membawa harapan dihati. Sekaligus membuka memori di bulan Juni lalu. Saat dimana dia tiba-tiba menjauh dariku dan beralih ke cewek lain. Mereka saling menyukai, dan akhirnya pacaran. Mungkin semua ini salahku, karena selalu bersikap dingin disaat dia mendekat. Itu semua aku lakukan karena... aku malu, dan aku suka dia...
Bulan Mei lalu, saat yang mendebarkan bagiku. Itulah saatku menyatakan cinta, walaupun secara gak langsung. Kutulis semua isi hati, kuluapkan segala perasaan, kudeskripsikan dirinya sedetail mungkin. Namun dia tetap tak menyadarinya, dan selalu bertanya... "Siapa, siapa?", seolah berharap kalo orang itu dia. Dia gak tahu, gak tahu. Aku gak menjawabnya, kubiarkan dia tahu, kubiarkan dia merasa, tapi, dia malah hilang setelah itu. "Apa masih belum cukup pernyataanku ini?. Apa masih kurang?!. Kamu belum sadar juga?. Aku jelas-jelas menyukaimu...", kugenggam kedua tanganku gemas saat itu, berteriak dalam hati.
"Malam ini, harusnya dipenuhi bintang-bintang, tapi malah hujan bertubi-tubi. Aku tahu, kamu itu diperebutin cowok. Aku marah, benci sama kamu. Aku benci. Aku marah, seakan perasaan cinta ini sudah habis.". Kira-kira, begitulah bunyi pesan yang pernah dia kirim di ponselku sekitar bulan Februari lalu. Bertepatan di saat itu pula, foto-ku (yang menunjukkan kedekatanku dengan cowok lain) terpampang di profil facebook-ku. Dan tergambar jelas, bahwa dia lagi marah saat itu. Pesan itu membawa harapan... Apa orang itu aku?. Apa dia aku?. Aku benar-benar gak tahu siapa cewek yang dia sindir waktu itu. Dan sampai sekarang itu masih terus menghantui otakku. "Apa orang itu aku?. Atau cewek yang dia pacari sekarang?. Atau cewek lain?". Pernyataannya terus berstatus sebagai misteri besar di otakku.
"Apa yang tersembunyi dari senyuman manismu. Apa yang tersembunyi dari manis wajahmu....", status facebook-nya, menambah harapan di hatiku yang jumlahnya sudah jutaan ini. Aku merasakan sesuatu, entah apa. Rasanya deg-degan, namun sepertinya bukan karena jatuh cinta. Tapi pertanda akan sesuatu yang terjadi dengannya. Aku mulai gelisah, terus berpikir. "Siapa dia?", berkali-kali kata-kata itu menghantui.....
Aku menulis, meluapkan perasaanku, yang aku rasakan saat itu. Mengatakan bahwa aku TULUS, gak peduli dia membalas perasaan ini atau gak. Aku berjanji buat terus bertahan dan menunggu. Sekaligus berharap, dia akan dekat lagi denganku..
"Kamu pengen deket sama aku lagi, yang selalu nyakitin hatimu?.". Aku tahu, rasa bersalah menghujam hatinya, menhujani dirinya. Terasa sakit begitu melihatnya. Aku begitu merasakan rasa bersalahnya. Hatiku sakit... "Iya, gak apa....", kedua tangan ini mengetik kata-kata polos ini. Diapun bilang maaf, dengan luapan rasa bersalahnya.
"Aku gak tahu, kapan aku bisa memaafkanmu. Aku ini tipe orang yang susah banget buat memaafkan orang yang udah nyakitin hatiku... Maaf, ngasih jawaban yang gak pasti. Semoga bahagia dengannya....", Air mata hampir mengalir setelah mengatakan itu padanya. Hati ini begitu sakit, entah kenapa... Sakit, sakittt...
"Kenapa kamu gak maafin aku?. Padahal, kan, aku pengen kita berdua kayak dulu. Kita berdua yang saling pengertian...". Kata-kata ini... terkesan begitu egois memang. Harusnya aku bahagia, tapi aku malah menitikkan air mata. Aku gak sanggup menahan air mataku di saat itu, air mata mengalir dengan sendirinya. Berkas-berkas harapan kecil muncul dihati ini. Kedua perasaan sedih dan gembira, bercampur jadi satu.
"Sayang.... Maafin aku. Ngasih perhatian buat orang lain. Ini cuma satu menit kok, cuma satu menit.". Deg!, serasa panah menusuk jantung ini. Air mataku mengalir dalam hati, membanjiri dan membuat kolam penyesalan dalam hati. Disitulah saat aku membencinya. Disitulah aku mulai mengutuknya. Aku benci dia, benar-benar benci dia. Aku benci dia, karena selama ini, dia selalu memberi harapan yang gak jelas. Aku benci, benci, benci dia. Air mataku gak kuat lagi menumpahkan air mata. Udah terlalu banyak air mata yang kukeluarkan untuknya. "Jadi apa arti dari kisah kita?!. Apa maksudmu?!. Kamu begitu tega!!. Aku gak akan memaafkanmu...", amarah dalam hatiku tersampaikan dengan air mata yang perlahan mengalir bersama larutan rasa sakit....
Dan disaat itulah, kami mulai terpisah. Berjalan berbeda arah...
Auuuww.. memang begitu sakit rasa ini. Sampai sekarang, rasa ini belum sepenuhnya terobati. Makanya aku berjanji, akan mencari lagi pujaan hati yang lebih baik darinya. Akan mencari yang lebih darinya. Tapi aku juga janji, kalau nanti dia akan datang, aku akan menerimanya setulus hati...
Kinipun, kadang, aku masih mengutuknya. Tapi aku juga merindukannya. Aku rindu saat-saat kami tertawa sama-sama, aku rindu saat-saat kami bercanda, aku rindu kata-kata manisnya, aku rindu hinaannya, aku rindu nasihat-nasihatnya, aku rindu ke-keras kepala-annya, aku rindu semuanya. Semua tentang dirinya...
Aku gak bisa apa-apa lagi, aku tahu, yang mesti dan harus kulakukan sekarang adalah PASRAH. Menanti, dan menanti jawaban itu datang...
*******************
Our never forgetfull moments...
> Disaat aku takut, dia menemaniku (walaupun hanya dengan kata-kata di pesan) sampai larut malam...
Aku: "Aku takut...."
Dia: "Sini, aku temani, gak apa-apa..."
Aku: "Emang kamu gak takut?.."
Dia: "Gak... Aku kan laki-laki, masa takut sama yang 'begituan'?..."
Aku: "Ooohh"
..........
Dia: "Udah. tidur aja sana. Udah malem, loh.."
Aku: "Makasih.."
Dia: 'Sama-sama"
> Disaat kami sakit di hari yang bersamaan, kami saling mendoakan supaya cepat sembuh...
Dia: "Lagi apa?"
Aku: "Lagi tiduran..."
Dia: "Gak sekolah??.."
Aku: "Gak, aku lagi sakit.."
Dia: "Ooohh.. Aku juga lagi sakit..."
Aku: "Eh, sama dong..."
Dia: "Iya. Ya udah semoga cepet sembuh..."
Aku: "Makasih. Kamu juga..."
Dia: "Makasih.."
Aku: "Sama-sama.."
> Dia selalu sabar mendengarkan curhatku... Mata dan hatinya selalu siap membantuku menyelesaikan masalah... Dia selalu ada disana setiap aku sedang kehilangan arah. Akalnya selalu bekerja buat membantuku menyelesaikan masalah. Dia memang baik. Tulus, gak pernah mengharapkan imbalan...
> Dia selalu menyelingi cerita kami dengan berbagai lelucon, hinaan, kata-kata manis, semangat dan keceriaan yang semakin membuatnya kian bersinar dihatiku. Walaupun ada masalah yang menimpanya, dia selalu terlihat ceria. Itulah yang membuatku suka padanya...
> Dia selalu memberi kebahagiaan yang gak terkira walaupun dia agak keras kepala dan terkesan sok tahu. Tapi dia perhatian dan cerdas...
> Kata-katanya selalu membawa semangat dalam diri ini. Rasanya dia itu seperti "ksatria" yang selalu memberi semangat dan selalu melindungiku. Rasanya, dia seperti benar-benar ada disampingku, menemaniku.... Pesonanya begitu nyata...
> Dia seperti kakakku, selalu memberi nasihat buatku. Nasihatnya sangat membantuku buat mewujudkan keinginanku. Itu membuatku merasa seperti adiknya dan dia selalu melindungiku...
"Rasanya, setiap mengenang kenangan yang pernah kulalui dengannya terasa bahagia. Rasanya, selalu ingin tertawa mengenangnya. Tapi gak jarang juga semua kenangan itu justu membuat hati ini perih, mengingat perubahan yang terjadi berkali-kali pada dirinya. Kadang dia begitu lucu dan menyenangkan, tapi juga menyakitkan, sama seperti kisah ini jika dikenang, membawa kebahagiaan, tapi gak jarang juga membuat hati ini perih..." -Me
---------------------------------------
Sepatah kata dariku untuknya...
Kamu yang disana, yang gak pernah sadar bahwa aku menyukaimu...
Maaf, aku tahu kamu pernah sakit hati karena perlakuanku dulu, yang cuek sama kamu, dan gak peduli sama kamu. Maaf, aku tahu itu begitu menyakitkan...
Maaf juga, aku gak bisa menyatakan perasaanku ini waktu kamu tanya tentang orang yang aku suka. Karena orang itu adalah kamu, makanya aku malu buat menyatakannya...
Maaf aku gak bisa jujur tentang perasaan ini. Maaf, udah membuatmu selalu penasaran dan geregetan karena pengen tahu siapa orang yang aku suka. Maaf karena membuatmu menunggu jawabannya.
Karena orang itu adalah kamu....
Maaf juga, selama ini, aku udah memberi perhatian yang berlebihan terhadapmu, yang mungkin membuatmu agak merasa risih, terganggu dan mungkin bingung. Kamu tahu, semua itu aku lakukan karena aku suka kamu. Maaf karena aku terlalu lama buat jujur tentang ini. Maafkan aku yang terlalu berharap buat memilikimu, tetapi melepasmu begitu saja. Bahkan gak peduli sedikitpun padamu. Mungkin kamu merasa seperti itu dan kesal karena itu...
Aku tahu perasaanmu, tapi sebenarnya gak begitu...
Aku diam bukan karena bosan. Aku diam bukan karena jenuh. Aku diam dan cuek sama kamu karena pengen tahu seberapa perhatianmu dan seserius apa kamu sama aku. Maaf, jika itu terasa menyakitkan buatmu. Maafkan aku, maafkan aku....
Kini, setahun yang indah itu berganti dengan perasaan sesal dihati...
Bayangkan betapa banyak kisah yang pernah kita ukir di buku sejarah kisah kita. Bayangkan betapa banyak hal-hal indah dan manis serta menyakitkan yang pernah kita lalui.
Aku minta satu hal untukmu, aku mau kamu gak melupakannya meskipun aku pernah bilang "lupakanlah...". Jangan lupakan kisah kita ya, tapi lupakanlah kesakitan yang pernah kita alami. Jadikanlah kisah-kisah kita sebagai sebuah pelajaran buat masa depan....
Aku percaya, akan ada akhir bahagia dari kisah ini. Untuk itu, kumohon jangan melupakannya. Kalau kamu mau lupakan aku, segera lupakanlah aku yang selalu membuat hatimu sakit. Tapi jangan lupa, disini ada orang yang mau kamu kembali lagi, dan selalu berharap suatu keajaiban akan datang padanya...
Hehe, maaf ya, aku selalu membuatmu pusing karena tingkahku yang misterius dan selalu berubah pikiran. Yang mungkin kadang gak nyambung. Itulah aku. Aku pengen menunjukkan diriku yang sebenarnya padamu....
Aku harap kamu bahagia, selalu bahagia, dan diberi panjang umur oleh Allah disana...
NB: Aku masih kesal karena sikapmu yang waktu itu. JUJUR, aku juga masih marah gara-gara itu. Tahu sendiri kan, ini juga begitu menyakitkan buatku. Aku akan berusaha memaafkanmu sebisaku. Aku bakalan menunggumu kembali lagi, kok....
-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-|-
Tahun 2012, kami akrab lagi berkat seorang teman. Setiap hari, kita bercanda bersama, berbagi keluh kesah bersama, kecewa bersama. Setahun kita lewati dengan liku-liku perjalan hidup. Setahun yang manis itu kini mulai lenyap, tak lagi bersinar terang seperti dulu. Rasa sesal menyelimuti hati. Kita berdua tak lagi bersama. Rasa pedih yang gak terlupakan. Amarah dalam hati.. Semuanya aku rasakan. Sekarang, tak lagi seperti dulu. Semua berubah seiring waktu. Apa kami masih bisa kembali seperti dulu lagi?. Atau sebaliknya?. Itulah misteri kisah kami yang belum terpecahkan jawabannya. Biarlah waktu dan takdir yang akan menjawabnya nanti...
[This is my real love story. My beautiful and painful love story....]
Gorontalo, 15 Agustus 2013
-Risty-

0 comments